Rabu, 01 Juli 2026
Reza Sulaiman : Rabu, 05 November 2025 | 08:45 WIB

guideku.com - Selama bertahun-tahun, Asia Tenggara sering dipandang tertinggal dalam upaya transisi energi. Kawasan ini identik dengan ketergantungan pada batu bara, urbanisasi tanpa kendali, dan kebijakan hijau yang belum konsisten.

Namun, dalam satu dekade terakhir, narasi itu mulai berubah drastis. Dari Vietnam hingga Indonesia, Asia Tenggara kini muncul sebagai kawasan yang paling dinamis dalam transformasi kendaraan listrik global.

Perubahan ini bukan hanya soal kebijakan, tapi tentang sebuah kepercayaan diri yang baru: bahwa inovasi tidak lagi dimonopoli oleh negara-negara maju. Di tengah arus perubahan itu, VinFast menjadi simbol nyata dari kebangkitan industri hijau Asia Tenggara.

Dari Nol Sampai Jadi 'Raja' Mobil Listrik dalam Waktu Singkat

Didirikan di Vietnam pada tahun 2017, VinFast awalnya hanyalah pemain baru di dunia otomotif. Namun, dalam waktu kurang dari dua tahun, perusahaan ini berhasil membangun pabrik berteknologi tinggi di Hai Phong dan meluncurkan tiga mobil konvensional pertamanya.

Puncaknya, pada tahun 2022, VinFast mengambil langkah yang sangat radikal: meninggalkan produksi mobil bensin dan sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik. Sebuah keputusan berani yang menandai ambisi Vietnam untuk menjadi pelopor mobilitas bersih di tingkat global.

“Kami percaya setiap bangsa berhak memiliki peran dalam masa depan industri hijau dunia,” ujar Pham Nhat Vuong, Chairman Vingroup sekaligus pendiri VinFast.

Bukan Cuma Jualan Mobil, tapi Bikin 'Ekosistem' Hijau

Keberhasilan VinFast tidak berhenti di lini produknya. Perusahaan ini membangun salah satu ekosistem mobilitas hijau paling terintegrasi di dunia, mulai dari city car hingga bus listrik, dari layanan pengisian daya hingga riset baterai lithium-ion.

Di Vietnam, jaringan pengisian daya mereka kini sudah mencapai lebih dari 150.000 port, menjadikannya salah satu yang terluas di dunia. Tak hanya berinovasi di teknologi kendaraan, VinFast juga berani menciptakan model bisnis baru. Melalui skema berlangganan baterai, konsumen bisa membeli kendaraan listrik dengan harga awal yang lebih rendah, sementara perawatan dan penggantian baterai dijamin seumur hidup.

“Program berlangganan baterai bukan sekadar strategi harga, tapi upaya untuk membuka akses agar kendaraan listrik bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat,” ujar CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto.

Indonesia Jadi 'Rumah Kedua', Siap Bangun Pabrik di Subang

VinFast kini menargetkan Indonesia sebagai pasar strategis dan “rumah kedua.” Indonesia dipilih bukan hanya karena potensinya sebagai pasar kendaraan listrik terbesar di kawasan, tetapi juga karena cadangan nikelnya yang sangat besar—bahan utama dari baterai EV.

Salah satu rencana yang tengah berjalan, VinFast sedang menggandeng mitra lokal, memperluas jaringan dealer, dan mempersiapkan pembangunan pabrik perakitan di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas 50.000 unit per tahun dan investasi awal sekitar US$200 juta.

Melalui ekspansi ini, mereka tidak hanya membawa kendaraan listrik, tetapi juga ikut membangun ekosistem mobilitas hijau di sini, termasuk rencana pembangunan 63.000 stasiun pengisian yang diproyeksikan senilai US$300 juta.

“Bagi kami, perjalanan ini bukan sekadar ekspansi ke pasar baru,” ujar Kariyanto. “Ini tentang menjadi bagian dari kisah yang lebih besar—kisah tentang kreativitas anak muda Indonesia, semangat kelas menengah yang terus tumbuh, dan visi para pembuat kebijakan yang berpandangan jauh ke depan.”