Rabu, 01 Juli 2026
Reza Sulaiman : Rabu, 02 Juli 2025 | 10:43 WIB

guideku.com - Evakuasi pendaki di gunung itu bukan hal baru buat Abdul Haris Agam alias Agam Rinjani. Cowok asal Makassar ini udah 9 tahun jadi pemandu di Gunung Rinjani, dan udah sering banget turun tangan waktu ada pendaki yang kecelakaan.

Tapi, waktu diminta bantu evakuasi Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang tewas saat mendaki Rinjani, Agam bilang ini adalah misi tersulit yang pernah dia jalani.

“Saya sudah 9 tahun di Rinjani. Berbagai evakuasi mayat udah pernah saya tangani. Tapi ini yang paling sulit,” kata Agam di podcast YIM Official.

Kombinasi Maut Medan Ekstrem dan Cuaca Buruk

Evakuasi kali ini bukan soal jarak aja, tapi juga cuaca yang super gak bersahabat. Waktu Agam dan tim relawan berusaha mengangkat jasad Juliana ke atas, mereka dihantam hujan deras, kabut tebal, dan... hujan batu. Iya, batu beneran jatuh dari atas.

“Tiba-tiba kabut, terus hujan batu. Jarak pandang cuma dua meter. Ada batu dari ketinggian 400 meter ngarah ke muka semua,” cerita Agam.

Ngeri banget, kan? Untungnya mereka pakai helm. Tapi meskipun udah pakai perlindungan, Agam tetap kena batu beberapa kali sampai kakinya luka.

Berjam-jam Gantung di Tebing Demi Menjaga Harga Diri Indonesia

Saking ekstremnya medan, Agam dan tim harus menggantung di tebing selama berjam-jam buat bisa angkat Juliana ke atas.

“Kami mulai naik jam 6 pagi, sampai atas itu sekitar jam 3 sore. Hampir 9 jam kami menggantung,” ujar Agam.

Bahkan, mereka terpaksa tidur bersama jasad Juliana di tebing berbatu, karena kondisi belum memungkinkan buat langsung turun.

Misi Kemanusiaan yang Bikin Merinding

Agam ngaku, ini bukan cuma soal tugas. Tapi juga tentang nama baik Indonesia di mata dunia.

“NKRI harga mati,” katanya tegas.

Yang bikin merinding, semangat Agam dan tim relawan ini bener-bener luar biasa. Mereka bukan cuma ngelawan cuaca dan medan, tapi juga mempertaruhkan nyawa buat bisa pulangin seseorang ke keluarganya dengan layak.

Siapa Juliana Marins?

Juliana adalah pendaki asal Brasil yang terjatuh di Rinjani pada Sabtu, 21 Juni 2025. Setelah pencarian selama beberapa hari dan melewati medan yang ekstrem, jasadnya baru berhasil ditemukan Selasa, 24 Juni.

Hasil autopsi menyebut, Juliana meninggal kurang dari 20 menit setelah terjatuh. Tapi perjuangan tim evakuasi buat mengangkat jasadnya bikin kita makin sadar: kerja-kerja di balik tragedi itu jauh lebih berat dari yang kelihatan.

Salut dan respek buat semua tim SAR dan relawan yang udah kerja total demi kemanusiaan. Kalian layak dapet apresiasi lebih dari sekadar ucapan terima kasih.