Kamis, 02 Juli 2026
Reza Sulaiman : Senin, 07 Juli 2025 | 14:32 WIB

guideku.com - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) terus dikebut. Tapi di balik hiruk-pikuk proyek prestisius ini, ternyata ada sisi lain yang cukup bikin geleng-geleng kepala: praktik prostitusi.

Sepanjang tahun 2025, Satpol PP Kabupaten Penajam Paser Utara udah menggelar beberapa operasi di sekitar IKN, khususnya di Kecamatan Sepaku, dan hasilnya nggak main-main—puluhan perempuan yang diduga berprofesi sebagai pramunikmat terjaring.

“Operasi ini untuk menekan penyakit sosial masyarakat, baik yang online maupun langsung,” kata Kepala Satpol PP Penajam, Bagenda Ali, Senin (7/7/2025), dikutip dari Antara.

Mayoritas Prostitusi Online

Dari tiga razia besar yang digelar, total 64 wanita diamankan. Dua orang di operasi pertama, lalu 32 orang di operasi kedua, dan 30 orang lainnya di operasi ketiga. Yang mengejutkan, mayoritas transaksi dilakukan via media sosial, bukan lagi lewat "mangkal" seperti zaman dulu.

Modusnya? Mereka sewa kamar di penginapan sekitar IKN, dengan tarif kisaran Rp300 ribuan per malam, dan menawarkan jasa lewat aplikasi. Harga sekali "kencan" disebut berkisar antara Rp400 ribu sampai Rp700 ribu.

Datang dari Berbagai Kota

Para wanita malam ini bukan cuma warga lokal. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai dari Samarinda, Balikpapan, Bandung, Makassar, hingga Yogyakarta. Setelah diamankan, mereka didata, diberi pembinaan, dan diminta meninggalkan wilayah dalam waktu 2–3 hari.

Meski wilayah IKN sudah masuk wewenang Otorita IKN, urusan penertiban sosial seperti ini masih dipegang pemerintah kabupaten setempat. Penertiban ini jadi alarm bahwa pembangunan fisik ibu kota baru juga harus dibarengi pengawasan sosial dan budaya yang ketat, supaya nggak keburu disusupi masalah sosial.

Pembangunan IKN bukan cuma soal gedung keren dan smart city, tapi juga soal gimana menjaga wilayah ini tetap aman, sehat, dan bebas dari praktik merugikan, kayak prostitusi terselubung.