Kamis, 02 Juli 2026
Reza Sulaiman : Jum'at, 11 Juli 2025 | 07:33 WIB

guideku.com - Di balik sebuah berita kriminal yang heboh, sering kali ada cerita manusia yang rumit dan tragis. Kasus pembunuhan Brigadir Nurhadi di Gili Trawangan, Lombok, yang menyeret nama Misri Puspita Sari, adalah salah satunya.

Namanya mendadak viral, tapi siapa sebenarnya perempuan 23 tahun asal Jambi ini? Kenapa dia ikutan jadi tersangka ya?

Perjalanannya dari seorang anak sulung yang banting tulang untuk keluarga hingga menjadi tersangka dalam liburan maut ini benar-benar bikin kita merenung. Ini dia fakta-fakta kelam di balik hidupnya.

1. Lulusan SMA yang Jadi Tulang Punggung Keluarga

Jauh dari kemewahan, Misri Puspita Sari datang dari keluarga yang sangat sederhana. Dengan ijazah SMA di tangan, ia tidak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Ayahnya dulu bekerja sebagai buruh dan penjual ikan. Setelah sang ayah meninggal, beban keluarga otomatis jatuh ke pundaknya. Sebagai anak sulung, Misri harus menafkahi ibu dan keempat adiknya.

2. Banting Tulang dari Jambi Sampai Jakarta

Demi menopang hidup keluarga, Misri mencoba berbagai pekerjaan. Lulus SMA, dia sempat kerja di dealer motor dan jadi marketing perumahan di Jambi. Dia bahkan pernah menjadi tenaga kontrak di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jambi. Merasa penghasilannya tak cukup, ia nekat merantau ke Jakarta, berharap bisa mendapatkan hidup yang lebih baik dengan bekerja sebagai agen properti.

3. Kenalan Lewat Instagram, Terjebak dalam Lingkaran Maut

Titik balik hidupnya terjadi pada April 2025. Seorang perwira polisi dari Polda NTB, Kompol I Made Yogi Purusa Utama, menemukannya di Instagram. Komunikasi mereka berlanjut lewat WhatsApp. Puncaknya pada 15 Juni 2025, sehari sebelum tragedi, Kompol Yogi menghubunginya.

4. Tawaran Menggiurkan yang Berakhir Petaka

Kompol Yogi menawarkan Misri sebuah 'pekerjaan': menemaninya liburan ke Gili Trawangan, Lombok. Imbalannya sangat menggiurkan. Semua biaya transportasi dan akomodasi ditanggung, plus upah Rp 10 juta per malam. Terdesak kebutuhan, Misri menyanggupinya. Ia kemudian dijemput oleh Brigadir Nurhadi, pria yang kelak menjadi korban dalam kasus ini.

5. Terlibat Pesta Narkoba di Vila Mewah

Di Gili Trawangan, Misri tidak sendirian. Dia bergabung dengan rombongan Kompol Yogi, Ipda Haris Chandra, dan seorang perempuan lain bernama Melanie Putri. Mereka menginap di Vila Tekek. Malam itu, menurut pengacara Misri, mereka semua berpesta, menenggak alkohol dan mengonsumsi obat penenang jenis Riklona. Pesta yang seharusnya menyenangkan itu berubah menjadi mimpi buruk.

6. Jadi Saksi Kunci Insiden di Kolam Renang

Tragedi dipicu saat Brigadir Nurhadi, yang diduga dalam pengaruh alkohol dan obat-obatan, mencoba merayu dan mencium Melanie Putri. Aksi ini menyulut amarah Ipda Haris dan Kompol Yogi. Perkelahian pun tak terhindarkan dan berakhir dengan tewasnya Brigadir Nurhadi di kolam renang vila.

7. Ditetapkan Sebagai Tersangka Pembunuhan

Meskipun diduga bukan pelaku utama, keberadaan Misri di lokasi kejadian membuatnya ikut terseret. Polisi akhirnya menetapkan tiga tersangka: Kompol Yogi, Ipda Haris Chandra, dan Misri Puspita Sari.

8. Pembelaan dari Pengacara: Misri Hanya 'Disewa'

Menurut pengacaranya, Yan Mangandar Putra, Misri murni 'disewa' oleh Kompol Yogi sebagai teman liburan. Saat insiden terjadi, Misri dalam kondisi setengah sadar sempat melihat Nurhadi mencium Melanie dan bahkan menegurnya. Pembelaan ini mencoba memposisikan Misri sebagai saksi, bukan pelaku aktif.

9. Nasib di Ujung Tanduk

Kini, nasib Misri Puspita Sari berada di ujung tanduk. Ia harus menghadapi proses hukum yang panjang bersama dua perwira polisi. Ceritanya menjadi pengingat pahit tentang bagaimana desakan ekonomi dan sebuah keputusan yang salah bisa menjerumuskan seseorang ke dalam masalah yang tak pernah terbayangkan.