Minggu, 16 Agustus 2026
Reza Sulaiman : Selasa, 15 Juli 2025 | 10:40 WIB

guideku.com - Coba bayangin, hal paling simpel dalam hidup kita itu apa? Mungkin buka keran dan air langsung ngalir. Tapi di Gaza, Palestina, hal sesederhana itu sekarang jadi misi yang mempertaruhkan nyawa. Sebuah laporan mengerikan dari otoritas setempat mengungkap sebuah kenyataan yang bikin hati kita semua teriris.

Sejak Oktober 2023, lebih dari 700 warga Palestina, yang sebagian besarnya adalah anak-anak, tewas ditembak oleh tentara Israel saat mereka hanya mencoba melakukan satu hal: mengambil air untuk bertahan hidup.

'Perang Kehausan' yang Disengaja

Menurut pernyataan resmi dari Kantor Media Pemerintah Gaza, ini bukan kecelakaan atau insiden sporadis. Ini adalah sebuah taktik yang sistematis dan disengaja. Mereka menyebutnya "perang kehausan".
“Pendudukan Israel terus melancarkan perang kehausan yang sistematis dan disengaja terhadap rakyat Palestina di Gaza, melanggar secara terang-terangan semua konvensi internasional dan kemanusiaan,” demikian bunyi pernyataan tersebut, Senin (14/7).

Otoritas Gaza menuduh pasukan Israel secara aktif menggunakan air sebagai senjata perang. Mereka mencatat ada 112 "pembantaian" yang spesifik menargetkan warga yang sedang antre atau mengambil air. Salah satu insiden terbaru terjadi pada Minggu (13/7), di mana 12 warga, termasuk delapan anak-anak, dilaporkan tewas ditembak saat menunggu giliran mengambil air di kamp pengungsi Nuseirat.

Bukan Cuma Manusia, Sumber Air Juga Dihancurkan

Serangan ini tidak hanya menargetkan orang-orangnya, tapi juga sumber kehidupannya. Laporan yang sama menyebutkan bahwa lebih dari 720 sumur air di seluruh Gaza telah dihancurkan secara sengaja oleh militer Israel.

Dampaknya? Lebih dari 1,25 juta warga Palestina kini kehilangan akses terhadap air bersih. Mereka terpaksa meminum air yang terkontaminasi, yang membawa pada mimpi buruk berikutnya.

Domino Efek Krisis: Penyakit dan Kelaparan

Situasi diperparah dengan blokade bahan bakar. Militer Israel disebut menghalangi masuknya 12 juta liter bahan bakar setiap bulan. Padahal, bahan bakar ini sangat krusial untuk mengoperasikan sisa sumur air, stasiun pengolahan limbah, dan sektor vital lainnya.

Akibatnya, jaringan air dan sanitasi lumpuh total. Wabah penyakit menyebar dengan cepat, dan anak-anak menjadi korban yang paling rentan.

Krisis air ini terjadi di tengah blokade total terhadap bantuan makanan dan medis yang sudah diberlakukan sejak 2 Maret. Kondisi ini telah mendorong 2,4 juta penduduk Gaza ke ambang kelaparan, dengan banyak laporan kematian akibat malnutrisi.

Dunia Menonton, Proses Hukum Berjalan

Di tengah semua kengerian ini, komunitas internasional bukannya diam. Seruan untuk gencatan senjata terus menggema, meski sering kali diabaikan. Di level hukum, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk pemimpin Israel, Benjamin Netanyahu, atas dugaan kejahatan perang.

Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait serangan brutalnya di Gaza yang hingga kini telah menewaskan lebih dari 58.000 warga Palestina, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.

Kisah ini adalah pengingat pahit bahwa di belahan dunia lain, hak paling dasar untuk mendapatkan seteguk air bersih harus dibayar dengan nyawa. Ini bukan lagi sekadar berita, tapi sebuah tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi di depan mata kita semua.