guideku.com - Sebuah video yang lagi seliweran di semua media sosial dan dijamin bikin kita semua auto merinding sekaligus patah hati. Video amatir ini merekam sebuah momen yang nggak pernah kita bayangin sebelumnya: seorang polisi berseragam lengkap menangis histeris di pinggir jalan saat akan dijemput paksa oleh Propam.
Jalanan di Ternate Utara itu mendadak jadi panggung drama dadakan. Dengan jeritan pilu, “Tolong-tolong saya tara mau jemput,” oknum polisi itu menolak diamankan, memicu kehebohan warga yang langsung mengabadikan momen tersebut.
Ini bukan cuma video viral biasa. Ini adalah potret langka yang menunjukkan kerapuhan di balik seragam yang selama ini kita anggap gagah dan tak tersentuh.
Detik-detik Penjemputan yang Bikin Geger
Baca Juga
Jadi, ada apa sebenarnya? Menurut informasi yang beredar, oknum polisi yang diketahui merupakan personel Satuan Sabhara Polda Maluku Utara ini dijemput paksa karena masalah disiplin.
Kabarnya, ia dilaporkan jarang masuk dinas, sebuah pelanggaran yang jelas serius di institusi kepolisian.
Tapi, yang bikin kasus ini jadi lebih dari sekadar berita penegakan disiplin adalah reaksi histerisnya. Tangisan dan perlawanan verbalnya seolah menjadi sinyal bahwa ada beban atau tekanan emosional yang jauh lebih dalam dari sekadar masalah absensi.
Sering kali, kita melihat polisi sebagai figur yang tegas, kuat, dan mungkin sedikit "menakutkan". Tapi video ini seolah menampar kita semua dengan sebuah realita: mereka juga manusia biasa. Mereka punya masalah, punya tekanan, dan punya batas kesabaran, sama seperti kita.
Coba bayangin, menjadi anggota Sabhara itu tugasnya nggak gampang. Mereka dituntut selalu siaga, waspada, dan siap menghadapi situasi apa pun di lapangan. Itu semua sangat menguras fisik dan mental. Belum lagi beban masalah pribadi yang mungkin mereka pikul diam-diam, entah itu masalah keluarga, tekanan ekonomi, atau konflik batin lainnya.
Sayangnya, di lingkungan yang sangat mengagungkan ketangguhan, mengakui kalau diri sedang tidak baik-baik saja secara mental sering kali masih dianggap tabu atau sebuah kelemahan. Stigma inilah yang mungkin membuat banyak aparat memilih untuk memendam masalahnya sendiri, sampai akhirnya "meledak" di waktu dan tempat yang tak terduga, seperti yang terjadi di Ternate.
Kapolres Ternate, AKBP Anita Ratna Yulianto, sudah memberikan konfirmasi singkat bahwa oknum tersebut adalah anggota Polda Maluku Utara, bukan Polres Ternate. Tapi terlepas dari yurisdiksinya, drama kemanusiaan yang terjadi di video itu sudah jadi milik publik.
Kisah ini lebih dari sekadar tontonan viral yang bikin kita penasaran. Ini adalah cerminan bahwa setiap orang, apa pun profesinya, punya titik rapuhnya masing-masing. Viralitas video ini seharusnya nggak berhenti di level sensasi atau bahan candaan.
Ini adalah wake-up call yang keras buat kita semua tentang pentingnya dukungan kesehatan mental. Bukan cuma untuk masyarakat sipil, tapi juga untuk para aparat yang setiap hari hidup dalam lingkungan penuh tekanan. Karena pada akhirnya, di balik seragam apa pun, ada seorang manusia yang juga butuh didengar dan dipahami.
Terkini
- Tantangan Pengangguran Muda Menguat, YES 2025 Dorong Arah Baru Ekonomi Hijau, Digital, dan Hilirisasi
- Saat Merek Lain Perang Harga, VinFast Justru Punya Jurus Beda Buat Rebut Hati Orang Indonesia
- Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau
- Bukan Cuma Angka: Ini Cerita Nyata Pengguna BSya yang Penuh Berkah
- Nabung Haji Sampai Investasi Emas, Semua Bisa dari Satu Aplikasi Super BSya