guideku.com - Biasanya, momen Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) identik dengan kenalan sama teman baru, ice breaking, sampai adaptasi sama lingkungan sekolah. Tapi, sayangnya nggak semua siswa bisa ngerasain pengalaman menyenangkan ini.
Baru-baru ini, viral di media sosial video pengeroyokan siswa SMP di Blitar saat MPLS. Nggak heran kalau video ini langsung menuai kemarahan netizen dan masyarakat luas.
Peristiwa yang bikin geleng-geleng kepala ini terjadi di SMPN Doko, Desa Sumberurip, Kecamatan Doko, Blitar. Korban yang diketahui berinisial V.W, siswa kelas 7, harus menanggung luka fisik dan trauma usai dikeroyok oleh kakak kelasnya sendiri yang duduk di kelas 9.
Lebih parahnya lagi, nggak cuma kakak kelas, tapi ada juga teman seangkatan korban yang ikut-ikutan melakukan kekerasan. Totalnya ada 14 pelaku yang disebut terlibat dalam aksi tidak manusiawi ini.
Menurut laporan dari Suara.com, pengeroyokan ini terjadi pada Jumat, 18 Juli 2025 lalu. Awalnya, korban dipukul dan ditendang di bagian perut, kemudian pelaku lain ikut bergantian memukul hingga korban tersungkur.
Setelah puas menganiaya, para pelaku bahkan mengancam korban agar tidak melapor ke guru ataupun orang tua. Tapi beruntungnya, korban berani cerita ke orang tua saat pulang dari sekolah. Nggak terima anaknya diperlakukan kayak gitu, keluarga korban langsung mengadu ke pihak sekolah dan melaporkan kejadian ini ke polisi.
Maklum saja, luka batin yang dirasakan keluarga korban jelas nggak bisa sembuh dalam semalam. Sementara itu, polisi masih menyelidiki kasus ini dan menyebut sudah ada 14 anak yang terlibat.
Yang bikin miris, kekerasan saat MPLS kayak gini bukan pertama kali terjadi. Padahal, sejak lama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan udah menegaskan bahwa MPLS nggak boleh ada unsur perploncoan apalagi kekerasan. Tujuannya jelas, supaya siswa baru bisa nyaman beradaptasi di sekolah. Tapi nyatanya, kasus seperti ini masih saja terjadi.
Psikolog anak pun mengingatkan, kekerasan fisik maupun verbal di lingkungan sekolah bisa meninggalkan dampak jangka panjang bagi korban.
Trauma, takut kembali ke sekolah, hingga kehilangan kepercayaan diri bisa saja menghantui korban. Dan kalau nggak segera ditangani dengan serius oleh sekolah, keluarga, dan aparat hukum, kekerasan di sekolah bisa jadi bom waktu.
Kasus ini jadi pengingat buat semua pihak, terutama sekolah dan orang tua, buat lebih waspada. MPLS seharusnya jadi ajang seru buat kenalan, bukan arena kekerasan. Kalau nggak segera dibenahi, bisa-bisa kekerasan di sekolah jadi budaya yang terus berulang.
Terkini
- Tantangan Pengangguran Muda Menguat, YES 2025 Dorong Arah Baru Ekonomi Hijau, Digital, dan Hilirisasi
- Saat Merek Lain Perang Harga, VinFast Justru Punya Jurus Beda Buat Rebut Hati Orang Indonesia
- Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau
- Bukan Cuma Angka: Ini Cerita Nyata Pengguna BSya yang Penuh Berkah
- Nabung Haji Sampai Investasi Emas, Semua Bisa dari Satu Aplikasi Super BSya