Rabu, 01 Juli 2026
Reza Sulaiman : Rabu, 23 Juli 2025 | 16:29 WIB

guideku.com - Kisah dari Labuhanbatu Selatan (Labusel), Sumatera Utara, ini dijamin bakal bikin kita semua elus dada dan marah di saat yang bersamaan. Di saat pemerintah terus ngomongin soal wajib belajar, mimpi seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) bernama Mutiara (14) untuk terus sekolah justru harus kandas.

Penyebabnya? Bukan karena nilainya jelek atau dia malas. Mimpinya hancur cuma gara-gara dihantui utang rekreasi sebesar Rp350.000, sebuah acara jalan-jalan yang bahkan tidak pernah ia ikuti.

Gimana Sih Ceritanya?

Kisah pilu ini meledak di media sosial setelah diunggah oleh akun X @sutanmangara. Dalam unggahan itu, terungkap betapa beratnya beban mental yang harus ditanggung Mutiara. Dibesarkan oleh ibu angkatnya dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas, Mutiara merasa sangat malu karena terus-menerus ditagih oleh pihak sekolah di depan teman-temannya.

“Saya malu terhadap teman-teman sekolah pak, karena saat ditagih utang sebesar Rp350.000 oleh pihak sekolah saya tidak mampu membayar,” ungkap Mutiara sambil menangis, dikutip Rabu (23/7/2025).

Rasa malu yang menumpuk inilah yang akhirnya membuatnya mengambil keputusan paling berat dalam hidupnya: berhenti sekolah. Yang lebih bikin nyesek, semangatnya untuk belajar sebenarnya masih menyala-nyala.

“Saya masih ingin sekolah Pak, walaupun orang tua saya orang tak mampu. Cita-cita saya sangatlah tinggi,” tambahnya.

Alasan Sekolah Kok Begitu?

Kalau kamu pikir ini cuma ulah oknum guru, kamu salah. Saat dikonfirmasi media lokal, perwakilan pihak sekolah, Abdul Siregar, justru membenarkan adanya kebijakan tagihan "pukul rata" ini. Dan alasannya? Bikin kita semua geleng-geleng kepala.

Menurutnya, biaya sewa bus untuk rekreasi itu sudah diputuskan lewat musyawarah, dan biayanya dibagi rata ke semua siswa yang terdata di kelas itu. Titik. Nggak peduli kamu ikut atau nggak.

“Semua siswa-siswi yang terdata, baik ikut atau tidak, sama-sama dibebani biayanya agar terpenuhi sewa bus,” ujarnya.

Sebuah logika "kejar setoran" yang sama sekali tidak menunjukkan empati atau kepekaan terhadap kondisi siswanya. Bagi mereka, lunasnya sewa bus ternyata lebih penting daripada masa depan pendidikan seorang anak.

Netizen Ngamuk: 'Mata Hatinya Tertutup!'

Jawaban dari pihak sekolah ini sontak memicu amarah netizen. Banyak yang mempertanyakan di mana nurani para pendidik di sekolah tersebut.

"Gimana rasanya ya, anak mau nuntut ilmu tapi tiap hari dibebani tagihan," tulis seorang netizen.

"Astaghfirullah...ketika melihat pejabat Indonesia dengan santai bilang kalau kemiskinan menurun, ternyata mata hatinya tertutup, kesusahan rakyat sampai pendidikannya hilang," timpal warganet lainnya, mengaitkannya dengan isu yang lebih besar.

Pelajaran Pahit dari Labusel

Hingga kini, dilaporkan belum ada pihak sekolah yang mendatangi rumah Mutiara untuk mencari solusi atau mengajaknya kembali ke sekolah.

Kisah Mutiara ini jadi tamparan keras buat dunia pendidikan kita. Sekolah seharusnya jadi tempat yang paling aman dan mendukung bagi anak-anak untuk meraih mimpi, bukan malah jadi tempat yang mematahkan semangat mereka karena masalah uang yang seharusnya bisa diselesaikan dengan bijaksana.

Ini bukan lagi soal Rp350.000. Ini soal hilangnya empati dan rusaknya sebuah mimpi. Semoga setelah viral, ada pihak yang tergerak untuk membantu Mutiara kembali ke bangku sekolah dan mengejar cita-citanya yang tinggi.