guideku.com - GEF SGP Indonesia menggandeng Yayasan Pikul menggagas diskusi tematik yang menyoroti ketahanan iklim dan ekonomi lokal di Pulau Sabu dan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua. Diskusi ini digelar mengingat datangnya ancaman perubahan iklim yang sudah dirasakan oleh masyarakat di Pulau Sabu dan Raijua. Meski kekayaan melimpah, tapi dampak krisis iklim tetap menjamah.
Membuka diskusi yang digelar di aula rapat Gedung Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, Kamis (24/7/2025), Wakil Bupati Sabu Raijua Thobias Uly menyoroti hujan tak menentu, kekeringan berkepanjangan, dan serangkaian bencana yang menimpa masyarakat. Dia menekankan betapa vitalnya, kemandirian, kolaborasi dan adaptasi.
Thobias juga mengapresiasi langkah GEF SGP Indonesia yang secara langsung menyentuh akar permasalahan di tingkat komunitas, seperti pemberdayaan kelompok tani, pengembangan budidaya perikanan, inovasi pengelolaan air, dan penguatan peran masyarakat adat. Dia juga menekankan urgensi untuk bertindak dan kebutuhan terhadap inovasi berkelanjutan.
“Harapannya, inisiatif ini tidak hanya menjadi proyek sesaat, melainkan gerakan berkelanjutan yang dapat direplikasi di berbagai wilayah,” ujar Thobias.
Dalam diskusi tersebut, Laksmi Dhewanthi, Inspektur Utama BPLH 2025 dan Focal Point Panitia Pengarah Nasional GEF SGP Indonesia, membuka sesi dengan data yang cukup mengkhawatirkan, yakni kenaikan panas di Indonesia dan seluruh dunia ini yang melewati 1,1 derajat celcius. Wajar, jika tahun ini merupakan tahun yang paling panas.
Dampak ini, diperkuat oleh temuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mencatat 3.472 kejadian bencana pada tahun 2023, dengan 80% di antaranya disebabkan oleh perubahan iklim. Bagi pulau-pulau kecil, dampak ini sangat terasa melalui kenaikan permukaan air laut, perubahan pola hujan ekstrem, dan risiko isolasi akibat cuaca buruk.
Dilanjutkan oleh Bambang Supriyanto, Eks Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) KLHK periode 2019-2024. Dia membahas program perhutanan sosial sebagai solusi legal bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan. Program ini mencakup skema Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, dan Hutan Adat.
Bambang menekankan pentingnya pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti lontar dan kemiri sebagai sumber penghasilan berkelanjutan. Dia juga menyoroti bahwa dari alokasi 80.000 hektare perhutanan sosial di NTT, baru sekitar 30.000 hektar yang terealisasi, menyisakan 50.000 hektar yang bisa dimanfaatkan, termasuk di Sabu Raijua.
Usulan dan inovasi
Laksmi mengusulkan beberapa strategi di antaranya: adaptasi permukiman pesisir, diversifikasi pertanian dengan komoditas tahan iklim, pengelolaan air bersih melalui pembangunan embung, pelestarian ekosistem pesisir, serta pengembangan kampung iklim untuk memperkuat komunitas.
Terkait inovasi, Sidi Rana Menggala, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, memperkenalkan konsep Payment for Ecosystem Services (PES) atau Pembayaran Jasa Lingkungan. Skema insentif finansial ini diberikan kepada masyarakat yang berkontribusi dalam melindungi dan melestarikan ekosistem.
"Konsep PES merupakan sebuah permodelan. Adalah ucapan remunerasi baik perusahaan, baik pemerintah pusat, baik pemerintah di daerah kepada masyarakat yang membantu melindungi alam," kata Sidi.
Konsep ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah No. 225 Tahun 2015 tentang Pembangunan Desa Lingkungan, yang mendorong konservasi sumber daya dan pelestarian lingkungan. PES menciptakan ekonomi sirkular yang harmonis antara masyarakat, ekologi, dan ekonomi, misalnya dengan membayar petani yang tidak menebang hutan atau komunitas yang menjaga kebersihan sungai.
Sementara itu, Viringga Kusuma dari Amati Indonesia menyajikan konsep "Clean Label" untuk gula lontar Sabu di tengah tingginya potensi dari pohon lontar. Apalagi gula sabu merupakan salah satu komoditas yang diminati pasar global. Bahkan, melalui program GEF SGP Indonesia, gula sabu telah dipamerkan di Indonesian House of Amsterdam, Belanda.
Penerapan Clean Label berarti memastikan kualitas bahan baku dari pohon lontar yang sehat, proses produksi higienis, dan penggunaan wadah yang bersih tanpa bahan kimia. Transparansi proses dan narasi kuat tentang sejarah serta manfaat gula lontar Sabu akan membangun kepercayaan konsumen, di samping sertifikasi organik dan halal.
Sementara, Radityo Putro Handrito, Sekretaris Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, membahas strategi keberlanjutan bagi Usaha Mikro Kecil (UMK) di Sabu Raijua. Ia menekankan pentingnya nilai dalam produk pertanian, yang melampaui harga jual, mencakup manfaat tambahan bagi konsumen dan pemangku kepentingan.
Dia juga mendorong UMK menggunakan sumber daya alam secara bijaksana guna mencegah deforestasi, menerapkan praktik produksi berkelanjutan dari hulu ke hilir, meningkatkan kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan, serta memasarkan produk secara efektif melalui branding yang kuat dan pemanfaatan platform digital.
Solusi dan komitmen
Dalam diskusi itu, para narasumber menawarkan solusi dan komitmen bersama. Perhutanan sosial dan reforma agraria dianggap sebagai jalan konkret untuk mengatasi masalah lahan dan memberikan akses legal kepada masyarakat.
Penerapan PES bisa menjadi mekanisme pemberian insentif bagi masyarakat yang menjaga lingkungan dan melestarikan pohon lontar, termasuk pembudidaya rumput laut. Inovasi seperti alat masak gula lontar bertenaga surya adalah terobosan menjanjikan untuk efisiensi produksi, kualitas, dan pengurangan dampak lingkungan.
Salah satu pengembang alat pemasak gula lontar dari Yayasan Cemara menjelaskan, "Alat ini adalah alat masak gula. Alat masak gula Sabu yang kita combine dengan teknik kita yang bersumber matahari." Ia menambahkan bahwa alat ini dapat menghasilkan gula dengan kualitas jauh di atas metode tradisional, dengan proses yang higienis dan efisien.
Terakhir, diversifikasi produk dan pemasaran terintegrasi melalui branding kuat akan meningkatkan nilai jual produk lokal Sabu Raijua. Pemanfaatan teknologi digital untuk promosi pariwisata juga sangat penting. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan swasta adalah kunci untuk menghadapi tantangan dan mengoptimalkan potensi Sabu Raijua.
Diskusi ini secara jelas menunjukkan komitmen kuat dari berbagai pihak untuk mewujudkan Sabu Raijua sebagai pulau yang tangguh terhadap iklim, mandiri secara ekonomi, dan lestari dalam sumber daya alamnya. Ini adalah langkah awal yang krusial dalam merumuskan strategi konkret dan terintegrasi demi masa depan Sabu Raijua yang lebih cerah dan berkelanjutan.
Terkini
- Tantangan Pengangguran Muda Menguat, YES 2025 Dorong Arah Baru Ekonomi Hijau, Digital, dan Hilirisasi
- Saat Merek Lain Perang Harga, VinFast Justru Punya Jurus Beda Buat Rebut Hati Orang Indonesia
- Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau
- Bukan Cuma Angka: Ini Cerita Nyata Pengguna BSya yang Penuh Berkah
- Nabung Haji Sampai Investasi Emas, Semua Bisa dari Satu Aplikasi Super BSya