Kamis, 02 Juli 2026
Reza Sulaiman : Minggu, 27 Juli 2025 | 16:15 WIB

guideku.com - Pernah nggak sih kamu atau temanmu lagi bokek tapi tetep pengen jalan-jalan, terus akhirnya cuma window shopping di mal?

Cuma numpang ngadem, pakai WiFi gratis, foto-foto OOTD, terus pulang tanpa beli apa-apa. Kalau pernah, selamat, kamu mungkin sudah jadi bagian dari fenomena sosial baru yang lagi viral: Rojali dan Rohana.

Istilah "Rojali" (Rombongan Jarang Beli) dan "Rohana" (Rombongan Hanya Nanya-nanya) ini lagi meledak di media sosial. Tapi ternyata, ini bukan cuma sekadar lelucon.

Fenomena ini sampai disorot oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan bahkan Menteri Koordinator Perekonomian, karena dianggap sebagai "sinyal bahaya" dari kondisi ekonomi kita yang sebenarnya.

Apa Sih Sebenarnya Rojali & Rohana Itu?

Buat yang belum tahu, "Rojali" adalah julukan buat sekelompok orang yang datang ke mal rame-rame, tapi tujuannya bukan buat belanja. Mereka cuma jalan-jalan, nongkrong di food court (kadang tanpa pesan apa-apa), dan bikin konten.

Sementara "Rohana" adalah "pasangannya", yang diartikan macam-macam oleh netizen, mulai dari "Rombongan Hanya Nanya-nanya" sampai "Rombongan Hanya Narsis". Intinya sama: meramaikan mal, tapi nggak bikin omzet naik.

“Daripada jalan-jalan mahal, mending ke mal aja. Adem, bisa duduk, foto-foto, ada Wi-Fi, udah seneng,” ujar Diah (23), seorang pengunjung mal di Bekasi yang mengaku masuk kategori Rojali.

BPS Buka Suara: Ini Bukan Cuma Gejala Orang Susah!

Nah, ini bagian paling mengejutkannya. Awalnya, kita mungkin mikir fenomena Rojali ini cuma terjadi di kalangan menengah ke bawah yang lagi kesulitan ekonomi. Tapi, BPS membongkar fakta yang lebih dalam.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, bilang kalau fenomena ini memang bisa jadi sinyal adanya "tekanan ekonomi" pada kelompok rentan. Tapi, yang lebih bikin kaget, ternyata orang kaya juga ikut jadi Rojali!

"Berdasarkan data Susenas 2025, kelompok atas memang agak menahan konsumsinya. Ini kita amati dari Susenas," beber Ateng, Jumat (25/7/2025).

Artinya, daya beli masyarakat, bahkan di level sultan sekalipun, lagi dalam mode "ngerem". Ini sinyal kalau tekanan ekonomi mungkin lebih luas dari yang kita bayangkan.

Menko Airlangga Ikut Nimbrung: 'Orang ke Mal Sekarang Cuma Buat Makan'

Fenomena ini saking gedenya sampai Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, ikut angkat bicara. Menurutnya, ada pergeseran perilaku yang signifikan.

"Sekarang memang trennya kebanyakan ke mal itu makan [...]. Makanya banyak mal yang memperbanyak kuliner," kata Airlangga.

Ia juga menyoroti bagaimana belanja sekarang sudah pindah ke online. Orang lebih suka cari diskon di e-commerce daripada harus capek-capek ke mal. Makanya, kata Airlangga, satu-satunya cara buat narik orang belanja di mal ya dengan gelontoran diskon besar-besaran.

Pelajaran dari Para Rojali

Gengs, fenomena Rojali ini lebih dari sekadar meme lucu. Ini adalah cermin nyata dari kondisi sosial dan ekonomi kita sekarang.

Mal Jadi Ruang Publik Gratis: Di tengah minimnya ruang publik yang nyaman dan gratis, mal jadi alternatif utama buat "rekreasi murah meriah".

Tekanan Ekonomi Itu Nyata: Saat BPS bilang orang kaya pun ikut "ngerem" belanja, itu artinya kita semua memang harus lebih bijak mengelola keuangan.

Kekuatan Konten: Dorongan untuk eksis di media sosial sering kali lebih besar daripada dorongan untuk belanja. Orang lebih butuh foto bagus daripada barang baru.

Jadi, lain kali kamu lihat rombongan Rojali di mal, jangan langsung nyinyir. Bisa jadi, mereka adalah cerminan dari kita semua yang lagi berjuang di tengah kondisi ekonomi yang nggak menentu. Setuju?