guideku.com - Ada sebuah kisah dari Kalimantan Selatan yang jadi pengingat pahit betapa tipisnya batas antara hidup dan mati. Seorang gitaris dari band lokal Radicta, Muhammad Redho (34), ditemukan tewas mengambang di Sungai Kitano, Martapura.
Kematiannya yang semula dikira kecelakaan tenggelam biasa, ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih kelam. Ia adalah korban pengeroyokan brutal yang dipicu oleh sebuah kesalahpahaman sepele, yang diperparah oleh pengaruh minuman keras.
Kronologi Malam Nahas: Dari Kail Nyangkut Sampai Tuduhan Maut
Semua mimpi buruk ini dimulai pada Minggu (20/7/2025). Redho, seperti biasa, pamit kepada ibunya untuk menyalurkan hobinya: memancing di sekitar Sungai Kitano. Tapi malam itu, ia tak kunjung pulang.
Menurut keterangan polisi, setibanya di lokasi, Redho mengalami insiden kecil. Kail pancingnya justru tersangkut di bajunya sendiri. Ia sempat mengumpat kesal, lalu meminta tolong pada sekelompok pria yang kebetulan sedang nongkrong di lokasi yang sama untuk melepaskannya.
Setelah insiden kail itu selesai, petaka sebenarnya dimulai. Redho panik karena menyadari ponsel dan kunci motornya hilang. Dalam kepanikannya, ia langsung menuduh kelompok pria yang tadi menolongnya sebagai pencurinya.
Di sinilah semuanya menjadi salah. Redho menuduh dengan nada yang dianggap kasar dan menyinggung. Dan yang lebih parah, kelompok pria itu sedang berada di bawah pengaruh minuman keras jenis gaduk.
Amukan di Tepi Sungai: Saat Adu Mulut Berubah Jadi Pengeroyokan Brutal
Api cemburu mudah tersulut, tapi amarah orang mabuk lebih mudah lagi. Merasa tersinggung dan harga dirinya diinjak-injak, salah seorang pelaku langsung melayangkan pukulan ke wajah Redho.
Satu pukulan itu seolah jadi komando. Adu mulut dalam sekejap berubah menjadi pengeroyokan brutal. Enam orang pria (KH, IB, MR, MF, GM, dan AH) mengeroyok Redho menggunakan tangan kosong. Suasana menjadi sangat liar. Salah satu tersangka, IB (48), bahkan sempat mencoba menusuk Redho dengan pisau, namun gagal.
Akibat pengeroyokan tanpa ampun itu, Redho diduga terjatuh ke dalam sungai.
Bukannya menolong, para pelaku justru membiarkannya begitu saja dan langsung kabur dari lokasi, seolah tidak terjadi apa-apa.
Keesokan harinya, Senin (21/7/2025), warga menemukan jasad Redho sudah dalam kondisi mengapung di aliran sungai.
Misteri Terungkap dalam 24 Jam
Keluarga yang curiga dengan kematian Redho langsung membuat laporan ke polisi. Berbekal keterangan saksi, polisi pun bergerak cepat. Kurang dari 24 jam, keenam tersangka berhasil diringkus di lokasi yang berbeda-beda.
"Para tersangka sudah mengakui perbuatannya. Selain tersinggung, mereka mengaku dalam pengaruh minuman keras saat kejadian," jelas Kapolres Banjar AKBP Dr Fadli.
Kini, keenamnya harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Mereka dijerat dengan pasal berlapis, mulai dari penganiayaan yang menyebabkan kematian hingga pembunuhan, dengan ancaman hukuman penjara yang panjang.
Tag
Terkini
- Tantangan Pengangguran Muda Menguat, YES 2025 Dorong Arah Baru Ekonomi Hijau, Digital, dan Hilirisasi
- Saat Merek Lain Perang Harga, VinFast Justru Punya Jurus Beda Buat Rebut Hati Orang Indonesia
- Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau
- Bukan Cuma Angka: Ini Cerita Nyata Pengguna BSya yang Penuh Berkah
- Nabung Haji Sampai Investasi Emas, Semua Bisa dari Satu Aplikasi Super BSya