guideku.com - Kabar duka datang dari Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Seorang prajurit muda, Prada Lucky Cepril Saputra Namo (22), yang baru dua bulan bertugas di Batalyon Teritorial Pembangunan 834 Waka Nga Mere (Yon TP 834/WM), meninggal dunia pada Rabu, 6 Agustus 2025. Diduga, ia jadi korban penganiayaan brutal oleh para seniornya sendiri di dalam asrama.
Lucky sebelumnya menjalani perawatan intensif selama empat hari di RSUD Aeramo, tapi nyawanya nggak tertolong. Menurut pihak rumah sakit, di tubuhnya terdapat banyak lebam, meski detail luka belum dijelaskan.
Kronologi Versi Keluarga
Lucky baru resmi jadi anggota TNI AD setelah menyelesaikan pendidikan di Secatam TNI AD Singaraja, Bali, pada Mei 2025. Setelah itu, ia ditempatkan di Yon TP 834/WM Nagekeo. Sayangnya, masa baktinya di dunia militer hanya berjalan dua bulan sebelum tragedi ini merenggut nyawanya.
Paman korban, Rafael David, cerita kalau semua berawal di akhir Juli 2025. Lucky mengaku kepada keluarga angkatnya bahwa ia dicambuk oleh para senior, bahkan sempat kabur dari asrama dalam kondisi tubuh penuh luka: di tangan, kaki, dan punggungnya.
Meski sempat diobati oleh keluarga angkatnya, Lucky kemudian dijemput lagi oleh senior-seniornya dan dibawa kembali ke asrama. Bukannya dirawat, ia justru kembali mengalami penyiksaan selama berhari-hari. Hingga akhirnya, kondisinya drop dan masuk ICU pada 2 Agustus 2025. Empat hari kemudian, ia mengembuskan napas terakhir.
Teriakan Keadilan dari Keluarga
Sersan Mayor (Serma) Kristian Namo, ayah kandung Lucky, menuntut agar pelaku dihukum seberat-beratnya, bahkan hukuman mati, supaya nggak ada korban lain.
"Anak tentara saja dibunuh, apalagi yang lain. Saya tuntut keadilan," tegasnya.
Ibu Lucky, Sepriana Paulina Mirpey, juga menyampaikan rasa sakit hatinya. Ia bisa menerima kalau anaknya gugur di medan perang, tapi tidak ketika dibunuh oleh senior sendiri.
" Kalau (pelaku) nggak diproses, lebih baik bunuh saya saja. Sakit hati anak saya mati sia-sia," ujarnya dengan suara bergetar.
Sepriana juga mengungkap bahwa Lucky butuh perjuangan besar untuk masuk TNI, yaitu delapan kali ikut tes baru akhirnya lolos.
Proses Hukum dan Investigasi TNI
Polisi Militer (POM) TNI sudah mengamankan empat prajurit yang diduga terlibat. Namun, identitas mereka belum dibuka ke publik. Kodam IX/Udayana menyebut ada total 20 orang yang diperiksa sebagai saksi, dan investigasi dilakukan secara transparan serta berpegang pada hukum.
Waka Pendam IX/Udayana, Letkol Inf Amir Syarifudin, menegaskan bahwa asas praduga tak bersalah tetap dijunjung tinggi. Namun, jika bukti keterlibatan ditemukan, pelaku akan diproses sesuai hukum militer.
Pemakaman yang Menggetarkan Hati
Jenazah Lucky disemayamkan di rumah duka di Kupang dan dimakamkan pada Sabtu, 9 Agustus 2025, dihadiri ribuan orang yang bersimpati. Dalam upacara pemakaman, keluarga kembali menyerukan tuntutan hukuman mati bagi pelaku.
Aktivis kemanusiaan NTT, Gabriel Goa, ikut mengecam tragedi ini dan menyebut fitnah yang beredar di media sosial terhadap korban sebagai "menyudutkan korban dua kali".
Kisah Prada Lucky bukan sekadar cerita duka satu keluarga, tapi juga alarm keras bagi dunia militer soal kekerasan di internal satuan. Seorang prajurit muda yang penuh semangat mengabdi, harus pulang dalam peti jenazah, bukan karena perang melawan musuh, tapi karena kekejaman rekan sendiri.
Kini, publik menunggu: apakah kasus ini akan benar-benar tuntas dan Lucky mendapatkan keadilan, atau hanya jadi catatan kelam yang perlahan dilupakan?
Tag
Terkini
- Tantangan Pengangguran Muda Menguat, YES 2025 Dorong Arah Baru Ekonomi Hijau, Digital, dan Hilirisasi
- Saat Merek Lain Perang Harga, VinFast Justru Punya Jurus Beda Buat Rebut Hati Orang Indonesia
- Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau
- Bukan Cuma Angka: Ini Cerita Nyata Pengguna BSya yang Penuh Berkah
- Nabung Haji Sampai Investasi Emas, Semua Bisa dari Satu Aplikasi Super BSya