Kamis, 02 Juli 2026
Reza Sulaiman : Senin, 11 Agustus 2025 | 08:30 WIB

guideku.com - Jagat media sosial lagi-lagi "kebakaran". Kali ini pemicunya adalah pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyoroti betapa kecilnya gaji guru dan dosen, yang dianggapnya menjadi tantangan bagi keuangan negara. Sebuah pernyataan yang sontak bikin banyak orang, terutama para pendidik, merasa miris.

Tapi, "serangan" kali ini nggak cuma datang dari netizen biasa. YouTuber dan pegiat pendidikan idola anak muda, Jerome Polin, langsung turun gunung dan memberikan "skakmat" telak.

Menurutnya, kalau negara masih menganggap kesejahteraan guru sebagai "tantangan" belaka, maka mimpi besar soal "Indonesia Emas 2045" itu mustahil terwujud.

Apa Sih Maksud Pernyataan Menkeu?

Semua kegaduhan ini bermula dari pernyataan Sri Mulyani dalam sebuah acara, Kamis (7/8/2025). Ia mengakui kalau isu gaji guru yang kecil itu sering bikin para pendidik merasa tidak dihargai.

"Banyak di media sosial, saya selalu mengatakan menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya nggak besar, ini salah satu tantangan bagi keuangan negara," ujar Sri Mulyani.

Ia bahkan seolah melempar pertanyaan ke publik. "Apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat," katanya. Pernyataan inilah yang langsung memicu reaksi keras, karena terkesan seolah negara "mengeluh" dan ingin berbagi beban.

'Skakmat' dari Jerome: 'Aku Jadi Sedih'

Nggak butuh waktu lama, Jerome Polin langsung merespons lewat media sosialnya. Dan responsnya ini bukan cuma sekadar emosi, tapi penuh dengan logika yang super nyelekit.

"Setelah melihat statement yang viral dari Menteri Keuangan (Sri Mulyani) tentang gaji guru dan dosen, aku jadi sedih," tulis Jerome, Jumat (8/8/2025).

Jerome kemudian membedah logikanya dengan simpel tapi menusuk:

  • Negara mau maju? Pendidikannya harus maju.
  • Pendidikan mau maju? Butuh tenaga pendidik yang bagus dan berkualitas.
  • Gimana caranya narik orang-orang terbaik buat jadi guru? Ya tentu saja dengan gaji dan kesejahteraan yang layak!

"Karena aku percaya, negara yang maju adalah negara yang pendidikannya maju. Dan itu dibangun oleh tenaga pendidik yang bagus. Salah satu katalis dan faktor terpenting yang bisa mendorong kemajuan itu? Gaji dan kesejahteraan," paparnya.

'Orang Pinter Mana Mau Jadi Guru?'

Jerome juga membongkar sebuah realita pahit di kalangan anak muda cerdas. Menurut hasil survei pribadinya, banyak banget dari mereka yang enggan jadi guru, bukan karena nggak suka mengajar, tapi karena takut hidupnya nggak sejahtera.

"Sekarang, orang-orang pintar mana mau jadi guru? Aku udah sering survey, kalau bukan karena panggilan hidup atau passion, aku rasa masih banyak stigma, 'kalau bisa ya enggak jadi guru'," imbuhnya.

Ia bahkan memberikan perbandingan yang super tajam.

"Kerja kasar di Australia bisa nabung 10-20 juta per bulan," ucapnya.

Sebuah sentilan telak bahwa motivasi finansial itu nyata, dan negara tidak bisa lagi mengandalkan "pengabdian" semata untuk membangun pendidikannya.

Janji Kenaikan Gaji dari Prabowo

Di tengah semua perdebatan ini, sebenarnya sudah ada janji manis dari pemerintah. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah mengumumkan kenaikan anggaran untuk kesejahteraan guru ASN dan Non-ASN sebesar Rp 16,7 triliun untuk tahun 2025.

Tapi, pernyataan Sri Mulyani yang terbaru ini seolah menjadi kontradiksi yang bikin publik bingung. Di satu sisi ada janji kenaikan, di sisi lain ada keluhan soal "beban negara".

Kasus ini jadi cermin besar, Gengs. Ini bukan lagi soal angka-angka di APBN. Ini soal prioritas.

Apakah negara kita benar-benar melihat pendidikan sebagai investasi terpenting untuk masa depan, atau hanya sekadar "pos pengeluaran" yang membebani? Kritik dari Jerome Polin ini seolah menjadi suara kita semua yang mendambakan perubahan nyata, bukan cuma wacana.