Kamis, 02 Juli 2026
Reza Sulaiman : Selasa, 12 Agustus 2025 | 16:00 WIB

guideku.com - Jagat media sosial lagi "kebakaran" gara-gara sebuah kasus pembunuhan yang plotnya lebih keji dan licik dari film thriller mana pun. Tagar #JusticeForTiwi meledak di mana-mana, membongkar kisah tragis seorang pegawai BPS Halmahera Timur bernama Tiwi (30) yang dibunuh oleh rekan kerjanya sendiri.

Tapi ini bukan sekadar kasus pembunuhan biasa. Yang bikin semua orang murka adalah kelakuan si pelaku, Aditya Hanafi (27). Setelah membunuh temannya, ia masih sempat melangsungkan pernikahan, pura-pura jadi korban dengan membalas chat WA Tiwi, bahkan ikut mengantar jenazah ke rumah sakit.

Akar Masalah: Utang Judol dan Niat Jahat di Balik Pinjam Duit

Semua mimpi buruk ini berawal dari satu "penyakit" yang lagi merajalela: judi online (judol). Pelaku, Aditya Hanafi, terlilit utang judol dan butuh uang cepat. Ia pun mencoba meminjam uang sebesar Rp 30 juta kepada korban, Tiwi.

Tapi Tiwi menolak. Penolakan inilah yang diduga menjadi pemicu Hanafi merencanakan aksi kejinya.

Rencana Keji: Ngumpet Dua Hari, Lalu Eksekusi & 'Googling' Tanda Kematian

Ini bagian paling mengerikannya. Rencana Hanafi benar-benar dingin dan terstruktur.

Menyusup: Ia menggunakan kunci milik tunangannya, AFM (yang juga teman sekantor dan serumah Tiwi), untuk masuk ke rumah dinas mereka pada Kamis (17/7/2025).

Mengintai: Selama dua hari, ia bersembunyi di dalam rumah, mengintai setiap gerak-gerik Tiwi.

Eksekusi: Pada Sabtu pagi (19/7), saat Tiwi baru keluar dari kamar mandi, Hanafi langsung menyekapnya, mengikat tangan dan menutup mulutnya dengan lakban.

Merampok: Ia memaksa Tiwi memberikan kata sandi ponselnya, lalu menguras isi rekeningnya sebesar Rp 38 juta. Tak cukup, ia bahkan sempat melecehkan korban, lalu dengan gampangnya meminta maaf, dan lanjut mengajukan pinjaman online (pinjol) sebesar Rp 50 juta atas nama Tiwi. Total, ia meraup sekitar Rp 89 juta.

Pembunuhan Dingin: Setelah mendapatkan uang, ia membekap wajah korban dengan bantal hingga tewas. Dan yang paling bikin merinding, setelah korban kejang-kejang, Hanafi dengan santainya mencari ciri-ciri orang meninggal di internet untuk memastikan Tiwi sudah benar-benar tiada.

Kebejatan Hanafi nggak berhenti di situ. Untuk menutupi jejaknya, ia melancarkan drama "pura-pura hidup" yang super licik:

Ia mengajukan cuti atas nama Tiwi lewat ponsel korban. Ia membalas pesan-pesan WhatsApp yang masuk ke ponsel Tiwi, seolah-olah Tiwi masih hidup dan sedang pulang kampung.

Setelah itu, ia dengan tenangnya pergi ke Ternate untuk melangsungkan pernikahannya dengan AFM pada Minggu (27/7).

Dan puncaknya, saat jasad Tiwi akhirnya ditemukan pada 30 Juli, Hanafi bahkan ikut datang ke rumah sakit untuk mengantar jenazah, pura-pura berduka seperti rekan kerja lainnya.

Misteri yang Tersisa: Ke Mana Istrinya & Kenapa BPS Bungkam?

Setelah akhirnya menyerahkan diri pada 5 Agustus, Hanafi kini diancam hukuman mati. Tapi, kasus ini masih menyisakan banyak pertanyaan yang bikin netizen geram.

Di mana AFM, sang istri? Netizen menyoroti bahwa AFM, yang kuncinya dipakai untuk menyusup, kini seolah "menghilang" dan mangkir dari panggilan polisi.

Kenapa tengkorak korban retak? Polisi menyebut ada keretakan di tengkorak jenazah, tapi Hanafi bersikeras hanya membekapnya.

Kenapa BPS Halmahera Timur bungkam? Akun Instagram resmi BPS Haltim dikritik habis-habisan karena tidak mengeluarkan satu pun ucapan belasungkawa resmi untuk karyawannya yang menjadi korban.

"@bps_statistics? Teman saya meninggal loh. [...] Ganjarannya apa? Pecat doang? #JusticeForTiwi," tulis salah satu rekan korban di media sosial.

Kisah ini jadi pelajaran paling kelam. Bahwa monster paling menakutkan kadang bukanlah orang asing di jalanan, tapi rekan kerja yang setiap hari tersenyum padamu.