Kamis, 02 Juli 2026
Reza Sulaiman | Anggia Khofifah P : Kamis, 14 Agustus 2025 | 13:01 WIB

guideku.com - Rabu, 13 Agustus 2025, Pati, Jawa Tengah, berubah jadi lautan manusia. Ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu memadati depan Kantor Bupati. Awalnya, demo ini cuma soal protes kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang gila-gilaan sampai 250%. Tapi, yang terjadi malah berujung kericuhan besar.

Padahal, Bupati Pati Sudewo udah sempat "undur langkah" dengan membatalkan kebijakan itu dan minta maaf. Sayangnya, api terlanjur membesar. Massa nggak cuma mau pembatalan pajak, tapi juga mendesak Sudewo lengser dari kursi bupati.

Dari Damai Jadi Ricuh

Sekitar pukul 11.00 WIB, suasana mulai panas. Massa menuntut Bupati keluar dan menemui langsung. Nggak ada respons, akhirnya emosi meledak. Botol air mineral beterbangan, pagar pengaman didorong sampai nyaris ambruk, dan puncaknya, mobil provos Polres Grobogan dibakar massa.

Polisi pun nggak tinggal diam. Gas air mata ditembakkan, meriam air dikerahkan. Beberapa kali massa mencoba merangsek masuk pendopo, tapi berhasil dihalau. Ketika Sudewo akhirnya muncul dari dalam mobil untuk "menyapa" massa, yang datang bukan tepuk tangan, tapi lemparan botol dan sandal.

Puluhan Korban, Hoaks Wartawan Meninggal

Kericuhan ini bikin sekitar 40 orang luka-luka. Mereka dirawat di berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari RSUD Soewondo, KSH, Puskesmas, sampai PMI.

Faktanya? Hoaks. Pihak Tuturpedia.com langsung mengklarifikasi lewat Instagram resmi mereka. Lilik memang sempat kena efek gas air mata dan alami sesak napas, tapi dia masih hidup, sadar, cuma lemas dan pusing. Sekarang dia masih dirawat di RSUD Soewondo Pati. LBH Ansor Pati juga ikut membantah adanya korban jiwa dalam aksi tersebut.

Redaksi Tuturpedia bahkan minta masyarakat stop nyebarin kabar bohong ini. "Terkait update kondisi Lilik bisa dilihat di akun resmi kami. Jangan sebar hoaks," begitu isi pernyataannya.

DPRD Bergerak Cepat

Melihat situasi makin panas, DPRD Pati langsung menggelar sidang paripurna dadakan. Hasilnya bikin kaget: mereka sepakat membentuk Panitia Khusus (Pansus) Pemakzulan Bupati Sudewo. Artinya, tuntutan massa mulai dapat "tanggapan resmi" dari legislatif.

Menariknya, ada juga laporan dari anggota DPRD, Teguh Bandang Waluyo, yang bilang ada dua anak bernama S dan Z dilaporkan jadi korban jiwa. Tapi info ini masih diverifikasi lebih lanjut oleh pihak berwenang, jadi belum bisa dipastikan kebenarannya.

Awal Mula Kenaikan PBB

Kalau mundur sedikit ke belakang, rencana kenaikan PBB ini awalnya diputuskan setelah rapat intensifikasi PBB-P2 bersama camat dan anggota Pasopati. Menurut Sudewo, tujuannya buat ningkatin pendapatan daerah demi infrastruktur dan pelayanan publik. Dia bahkan bilang, kalau dibanding kabupaten tetangga seperti Jepara atau Kudus, penerimaan PBB Pati jauh lebih kecil.

Sayangnya, cara penyampaiannya ke publik bikin warga geram. 250% itu angka yang kelewat fantastis, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang masih serba sulit. Nggak heran kalau penolakannya gede-gedean.

Akhirnya, melihat gelombang protes, Sudewo mencabut kebijakan itu. Tapi seperti pepatah, "nasi sudah jadi bubur", kepercayaan publik telanjur luntur.

Demo Pati 13 Agustus 2025 ini jadi salah satu yang paling panas dalam sejarah kabupaten tersebut. Dari isu pajak, melebar ke tuntutan lengser, ditambah bumbu hoaks yang bikin suasana makin ruwet.

Kalau ada pelajaran yang bisa diambil, mungkin ini: komunikasi kebijakan publik itu penting banget, apalagi yang nyentuh langsung kantong warga. Dan satu lagi, jangan gampang telan info mentah-mentah di media sosial. Cek dulu faktanya, biar nggak ikut memperkeruh suasana.