Kamis, 02 Juli 2026
Reza Sulaiman : Sabtu, 16 Agustus 2025 | 18:01 WIB

guideku.com - Ada sebuah momen super adem sekaligus nyelekit yang datang dari lawatan Anies Baswedan ke Melbourne, Australia. Bukan debat panas atau sindiran politik, serangan kali ini justru datang dari sebuah pertanyaan polos seorang bocah kelas 5 SD. 

Dalam sebuah acara silaturahmi dengan komunitas Muslim Indonesia, seorang anak kecil bernama Sabiq dengan super pede maju ke depan. Bukannya minta foto bareng, ia justru punya agenda lain.

"Assalamuallaikum pak Anies, nama saya Sabiq dan aku mau jadi presiden untuk di masa depan," ujar Sabiq, yang sontak disambut tepuk tangan dan senyum bangga dari Anies Baswedan.

Setelah mengaku sebagai penggemar Anies, Sabiq langsung menodong dengan sebuah pertanyaan yang levelnya bukan lagi anak SD.

Pertanyaan 'Berat' dari Anak Kelas 5 SD

Di saat anak-anak seusianya mungkin bertanya soal game atau kartun, pertanyaan Sabiq justru jauh lebih dalam. Ia meminta Anies untuk memberinya "resep" atau cara untuk menjadi presiden yang baik, amanah, adil, dan jujur.

Anies pun sampai tertawa bangga mendengarnya. "Ini pertanyaan yang berat. Itu pertanyaanmu? Kelas berapa kamu?" tanya Anies, seolah tak percaya. "Kelas 5 SD," jawab Sabiq mantap.

Nah, di sinilah bagian paling "jleb"-nya. Jawaban yang diberikan Anies sama sekali bukan soal "privilese" atau "darah biru". Jawabannya adalah soal proses, latihan, dan karakter.

"Ini jawaban untuk anak-anak ya, bukan bapak-bapak ya," ujar Anies memulai nasihatnya.

Mulai dari Sekarang, Gabung Organisasi: "Sabiq, kamu mulai dari sekarang bergabung dengan organisasi. Jika ada komite di sekolahmu, kamu berpartisipasi."

Jangan Gengsi Jadi 'Anak Bawang': "Peran apa pun, tidak harus dalam peran kepemimpinan. Bahkan sebagai peran pengikut, kamu ambil peran itu dan kemudian jalani itu sebagai latihan langkah demi langkah."

Kuncinya Tanggung Jawab & Integritas: "Jadi, apa pun tanggung jawab yang diberikan kepadamu, lakukan yang terbaik dan selalu jujur," kata Anies. "Pegang integritas dan kamu akan melatih dirimu untuk menjadikan kejujuran sebagai kebiasaanmu," tegasnya.

Anies menutup wejangannya dengan sebuah doa, "Bismillah, kamu nanti akan jadi pemimpin."

Jawaban Anies yang sangat menekankan pada proses dari bawah, kerja keras, dan integritas ini sontak jadi "senjata" bagi netizen untuk menyindir Gibran. Mereka membandingkan "resep" dari Anies ini dengan jalur politik Gibran yang dianggap instan dan penuh dengan privilese.

Kolom komentar di berbagai platform pun langsung meledak.

"Sabiq aku doain jadi Presiden, bukan Jan Ethes," kata @yeniraha***, langsung membandingkan Sabiq dengan cucu Jokowi.

"Pinter dia daripada Gibran," timpal @ahmaddha*** blak-blakan.

"Beliau belum jadi presiden tapi di tanya cara menjadi presiden amanah, keliatan kan aura yang pantes siapa sebenernya," tulis @adilla***, seolah memberi "vonis" siapa yang lebih pantas.

Momen antara Anies dan Sabiq ini jadi lebih dari sekadar interaksi biasa. Ini jadi sebuah cermin besar yang memantulkan kembali perdebatan soal seperti apa sih pemimpin yang kita dambakan: yang lahir dari proses dan tempaan, atau yang lahir dari kemudahan dan privilese?