guideku.com - Peta politik Indonesia menjelang Pilpres 2029 mulai terasa panas, bahkan sebelum kabinet baru Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka resmi terbentuk. Di balik suasana "damai" koalisi pemenang, muncul gosip adanya perang dingin antara lingkaran Solo (yang kerap dikaitkan dengan Presiden Joko Widodo) dan kubu Cikeas (keluarga besar Yudhoyono).
Rumor ini makin ramai setelah pengamat militer dan intelijen, Connie Rahakundini Bakrie, buka suara soal adanya ketidaksukaan dari lingkaran kekuasaan terhadap Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ketua Umum Partai Demokrat sekaligus Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Bocoran dari Connie: "Solo Tak Suka AHY"
Dalam sebuah podcast bareng pengamat politik Hendri Satrio, Connie mengaku dapat info langsung dari Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh. Menurutnya, Surya Paloh cerita kalau lingkaran Solo alias orang-orang dekat Jokowi memang tidak nyaman dengan AHY.
Baca Juga
"Pak Surya Paloh cerita ke saya bahwa pihak Solo itu tidak suka sama AHY," ungkap Connie.
Pernyataan ini bikin publik kaget, karena Demokrat belakangan udah bergabung ke pemerintahan dan AHY bahkan sempat masuk kabinet Jokowi di akhir masa jabatannya. Tapi ternyata, di balik layar, masih ada riak-riak resistensi.
Gestur Dingin Gibran di Bandung
Isu ini makin ramai setelah muncul momen "dingin" di Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Bandung, 10 Agustus 2025 lalu.
Dalam video yang beredar, Wapres Gibran terlihat melewatkan salaman dengan AHY, juga tiga menteri lain: Zulkifli Hasan, Bahlil Lahadalia, dan Muhaimin Iskandar. Meski kelihatan kecil, gesture ini jadi bahan spekulasi besar.
Menurut Connie, sikap Gibran itu bukan kebetulan, tapi mencerminkan preferensi politik sang ayah. "Solo tidak suka dengan Agus Harimurti Yudhoyono, kenapa nih," kata Connie. Ia bahkan menegaskan, "Di dunia ini nggak ada yang kebetulan."
Siapa yang Layak Jadi Cawapres 2029?
Connie juga menambahkan, kalau bicara kandidat muda yang pantas jadi Cawapres 2029, ada dua nama: AHY dan satu lagi "anak dari PDIP". Ucapan ini jelas mengarah pada putra Megawati Soekarnoputri, meski tak disebut langsung.
Kalau benar ada resistensi dari Solo terhadap AHY, maka posisinya bakal sulit. Di satu sisi, ia sudah dekat dengan Prabowo. Tapi di sisi lain, lingkaran kekuasaan yang masih berpengaruh justru menolaknya.
PDIP Ambil Posisi "Penyeimbang"
Di tengah riuhnya isu Solo vs Cikeas, PDIP justru mengambil langkah unik. Connie menyebut Megawati menegaskan partainya nggak akan jadi oposisi frontal, tapi lebih ke posisi "penyeimbang".
Posisi ini strategis banget: PDIP bisa fleksibel, kadang kritis, tapi tetap menjaga jarak aman dengan pemerintah. Kalau benar ada retakan di koalisi Prabowo akibat gesekan elite, PDIP bisa jadi alternatif mitra politik menuju 2029.
Analisis Lain: Kebetulan atau Sinyal Politik?
Nggak semua orang sependapat dengan Connie. Profesor Lili Romli dari BRIN menilai gestur Gibran di Bandung bisa juga murni ketidaksengajaan.
"Pertama, bisa jadi karena fokus salaman dengan Pak Dasco dan Jaksa Agung, jadi lupa salaman dengan yang lain. Atau memang sengaja tidak mau salaman," jelas Lili.
Kalau disengaja, menurutnya ada dua makna. Pertama, Gibran mungkin merasa sebagai atasan sehingga nggak perlu salaman duluan dengan menteri. Kedua, bisa jadi ia memang melihat beberapa menteri itu sebagai rival politik di masa depan, khususnya AHY.
Apalagi, Presiden Prabowo sendiri beberapa kali menyebut AHY sebagai figur muda yang berpeluang maju di Pilpres 2029. Plus, AHY kerap dikasih tugas-tugas strategis negara. Jadi wajar kalau rivalitas politik mulai terbaca dari sekarang.
Perang Dingin Baru Jelang 2029?
Dari gestur kecil di Bandung sampai bocoran info dari Connie Bakrie, publik mulai melihat ada potensi perang dingin antara Solo dan Cikeas. Kalau benar, ini bisa jadi dinamika menarik menuju Pilpres 2029, di mana tokoh-tokoh muda seperti Gibran dan AHY berpotensi berhadapan langsung.
Apakah ini sekadar spekulasi atau benar ada konflik di balik layar? Jawabannya mungkin baru akan kelihatan dalam lima tahun ke depan. Tapi satu hal pasti: politik Indonesia nggak pernah sepi drama. Dan, seperti kata Connie, mungkin memang "nggak ada yang kebetulan."
Tag
Terkini
- Tantangan Pengangguran Muda Menguat, YES 2025 Dorong Arah Baru Ekonomi Hijau, Digital, dan Hilirisasi
- Saat Merek Lain Perang Harga, VinFast Justru Punya Jurus Beda Buat Rebut Hati Orang Indonesia
- Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau
- Bukan Cuma Angka: Ini Cerita Nyata Pengguna BSya yang Penuh Berkah
- Nabung Haji Sampai Investasi Emas, Semua Bisa dari Satu Aplikasi Super BSya