Rabu, 01 Juli 2026
Reza Sulaiman | Anggia Khofifah P : Jum'at, 22 Agustus 2025 | 12:14 WIB

guideku.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lagi-lagi jadi sorotan publik. Bukannya bikin adem, beberapa pernyataan pejabat justru bikin netizen makin geleng-geleng kepala. Salah satunya datang dari Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), yang komentar soal kasus keracunan siswa gara-gara menu MBG.

Dari Keracunan Sampai Belatung di Piring Siswa

Sejak digulirkan, program MBG memang nggak sepi masalah. Mulai dari temuan siswa keracunan massal di berbagai daerah (contohnya 188 murid di Kupang dan 90 murid di Sleman), sampai munculnya belatung di menu MBG di Tuban. Wajar aja publik jadi heboh dan nuntut pengawasan yang lebih ketat.

Menanggapi hal itu, Zulhas turun langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonocolo, Surabaya pada 21 Agustus 2025. Di sana, ia memastikan pengawasan MBG katanya sudah super ketat. Dari pemilihan bahan baku, cara mencuci, sampai penyajian, semuanya dicek bareng ahli gizi, BPOM, dan pemda.

Komentar Zulhas yang Bikin Kontroversi

Tapi, yang bikin ramai bukan soal pengawasan, melainkan penjelasan Zulhas soal siswa yang keracunan. Menurutnya, bisa jadi penyebabnya bukan karena masakannya salah, tapi karena anak-anaknya "belum terbiasa" dengan menu MBG.

Ia bahkan mencontohkan pengalamannya dulu saat masih kecil.

"Dulu saya dikasih susu, malah mencret. Bukan salah susunya, tapi karena saya belum terbiasa," kata Zulhas.

Jadi menurut dia, ada kemungkinan anak-anak yang muntah atau diare itu karena alergi atau belum terbiasa sama makanan baru, bukan karena kualitas MBG yang jelek.

Pernyataan ini tentu langsung jadi bahan perdebatan. Banyak yang merasa alasannya agak "maksa" mengingat kasus keracunan sudah terjadi berkali-kali dan melibatkan ratusan siswa.

Kepala BGN: Jangan Lupa Rantai Bahan Baku

Di sisi lain, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, punya pandangan berbeda. Menurutnya, masalah MBG nggak sesederhana "belum terbiasa" aja. Ia menekankan bahwa rantai pasok makanan ini panjang banget, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, sampai distribusi.

Artinya, potensi masalah bisa muncul di banyak titik. Misalnya bahan bakunya kurang segar, proses masak yang buru-buru, atau distribusi yang nggak higienis. Hal-hal kayak gini bisa bikin makanan rentan terkontaminasi.

Dadan juga menambahkan, kondisi siswa ikut berpengaruh. Ada kasus di mana seorang anak sebenarnya udah sakit duluan, lalu setelah makan MBG jadi muntah, dan akhirnya teman-temannya ikut panik. Akhirnya semua dianggap keracunan karena makanan, padahal belum tentu begitu.

Target Besar dan Anggaran Fantastis

Meski banyak masalah, pemerintah tetap ngegas dengan target program MBG. Zulhas menyebut per Agustus 2025 sudah ada 20 juta penerima manfaat, dan optimis akhir tahun bisa tembus 80 juta siswa.

Buat mendukung itu, tahun depan pemerintah sudah siapin anggaran super jumbo: Rp300 triliun dari APBN. Angka ini bikin publik makin was-was, apalagi kalau kualitas makanan masih diragukan.

Jadi, Salah Masak atau Belum Biasa?

Kalau dilihat dari pernyataan dua pejabat tadi, kesimpulannya ada dua versi. Zulhas lebih menekankan bahwa masalah keracunan bisa karena faktor anak yang nggak terbiasa. Sementara BGN menyoroti proses panjang mulai bahan baku sampai distribusi.

Yang jelas, publik berharap masalah ini nggak dianggap remeh. Apalagi yang jadi korban adalah anak-anak sekolah. Program bagus kayak MBG bisa gagal total kalau kualitas dan pengawasannya nggak benar-benar dijaga.

Program makan gratis buat anak sekolah itu idenya keren banget, tapi pelaksanaannya harus benar-benar rapi. Kalau sampai masih ada kasus keracunan dan makanan "aneh-aneh" kayak belatung, wajar masyarakat jadi skeptis.

Alih-alih lempar pernyataan yang bikin netizen makin nyinyir, semoga pemerintah bisa kasih solusi nyata biar MBG benar-benar jadi berkah, bukan bikin resah.