guideku.com - Ada sebuah momen yang dijamin bakal bikin kita semua auto elus dada dan marah berjamaah. Di tengah hebohnya kisah pilu balita R (4) di Sukabumi yang meninggal dunia karena cacingan, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno justru memberikan respons yang super "nyeleneh" dan sama sekali nggak empatik.
Saat dicecar wartawan soal kasus tragis ini, Pratikno malah mengaku ngantuk, dan yang bikin makin parah, ia mengucapkannya sambil tertawa! Sontak, video momen ini langsung viral dan "dibakar" habis-habisan oleh netizen.
'Saya Ini Agak Ngantuk Dikit' - Jawaban yang Bikin Geger
Semua ini terekam dalam sebuah video wawancara yang viral di media sosial. Awalnya, Pratikno mencoba menjawab dengan diplomatis, bilang kalau kasus ini akan ditangani oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
"Mungkin Kemenkes yang ngawal. Tapi detailnya nanti ke Kemenkes ya," ujar Pratikno.
Tapi, saat wartawan bertanya lebih lanjut soal koordinasi yang sudah ia lakukan, di sinilah jawaban "maut" itu keluar. Bukannya memberikan penjelasan yang serius, Pratikno justru berkelakar.
"Saya ini agak ngantuk dikit," ujarnya sambil tertawa.
'Pengadilan' Netizen Dimulai: 'Semoga Gak Bangun Lagi!'
Jawaban yang sangat tidak sensitif ini jelas jadi "bensin" yang menyulut api kemarahan netizen. Kolom komentar di berbagai platform media sosial langsung meledak dengan hujatan. Mereka nggak habis pikir, kok bisa seorang pejabat negara menanggapi tragedi kematian seorang anak dengan candaan.
"Emang empati pejabat kita ini sudah mati ya. Bisa-bisanya sebuah tragedi masih bisa tertawa pas diwawancarai," kecam salah satu netizen.
"Sama sekali gak ada empatinya astaghfiullah aladzim," timpal yang lain.
"Blacklist nih orang-orang begini, tandai, nanti pemilu jangan di pilih lagi," ancam warganet lainnya.
"Cepet tidur pak, semoga gak bangun lagi," cibir netizen yang saking geramnya.
Cermin Besar dari Sebuah Jawaban
Gengs, respons "ngantuk" dari Menko Pratikno ini lebih dari sekadar salah ngomong. Ini adalah cermin besar dari "jarak" yang sering kali terasa antara para elite di menara gading dengan penderitaan nyata yang dialami rakyat di lapangan.
Kematian seorang balita karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah seperti cacingan adalah sebuah tragedi kemanusiaan dan kegagalan sistem kesehatan kita. Ini adalah isu super serius yang menuntut respons yang serius dan penuh empati, bukan candaan.
Sikap Pratikno ini seolah menunjukkan betapa remehnya nyawa seorang anak miskin di mata sebagian pejabat. Ini bukan lagi soal politik, tapi soal kemanusiaan.
Pelajaran Pahit dari Sebuah Candaan
Kasus ini jadi pelajaran super pahit, terutama buat para pejabat publik. Di era digital di mana semua ucapan bisa direkam dan diviralkan dalam sekejap, tidak ada lagi ruang untuk jawaban yang "nyeleneh" atau tidak empatik, apalagi jika menyangkut nyawa manusia.
Satu candaan yang mungkin dianggap sepele, ternyata bisa menghancurkan reputasi dan menunjukkan kualitas asli dari seorang pemimpin. Gimana menurutmu?
Terkini
- Tantangan Pengangguran Muda Menguat, YES 2025 Dorong Arah Baru Ekonomi Hijau, Digital, dan Hilirisasi
- Saat Merek Lain Perang Harga, VinFast Justru Punya Jurus Beda Buat Rebut Hati Orang Indonesia
- Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau
- Bukan Cuma Angka: Ini Cerita Nyata Pengguna BSya yang Penuh Berkah
- Nabung Haji Sampai Investasi Emas, Semua Bisa dari Satu Aplikasi Super BSya