Minggu, 15 September 2019
Dany Garjito | Amertiya Saraswati : Rabu, 03 Juli 2019 | 15:00 WIB

Guideku.com - Di negara Guinea Khatulistiwa, Afrika Tengah, ada sebuah resor mewah bernama Sipopo yang menawarkan fasilitas bintang lima.

Layaknya resor-resor mewah lainnya, Sipopo yang berada di dekat pantai ini tentunya dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas yang memanjakan.

Tidak main-main, Sipopo atau Sofitel Malabo Sipopo Le Golf Hotel tersebut dibangun dengan biaya mencapai USD 670 juta atau sekitar 9 triliun jika dirupiahkan.

Namun, terlepas dari 52 villa mewah, kolam renang pribadi, lapangan golf, hingga pantai eksklusif yang ada, resor di Guinea Khatulistiwa ini malah bak kota hantu.

Sipopo sendiri awalnya dibangun sebagai lokasi tuan rumah perkumpulan African Union. Sayang, seiring berjalannya waktu, jumlah turis yang mau datang ke Sipopo bisa dihitung jari.

Resor mewah Sipopo di Guinea Khatulistiwa (Google Maps)

"Kau bisa mendengar suara dari langkah kakimu sendiri," tambah pekerja di hotel mewah tersebut.

Pengunjung Sipopo sendiri kebanyakan adalah orang-orang kaya yang mencari privasi sekaligus pejabat pemerintah yang terkenal korup.

Sementara, pengunjung seperti pasangan yang bulan madu, pengusaha, atau keluarga terhitung sedikit.

Tak heran, pantai buatan di Sipopo pun terlihat terabaikan. Bahkan, mall yang dibangun di resor tersebut tetap dibiarkan tutup karena sepi pengunjung.

Resor mewah Sipopo di Guinea Khatulistiwa (Google Maps)

Meski disebut-sebut sebagai destinasi liburan yang memukau, nyatanya jumlah turis di Guinea Khatulistiwa sama sekali tidak dilaporkan dalam laporan terbaru World Bank.

"Negara tersebut selalu menjadi misteri bagi orang luar, yang terhalang untuk berkunjung karena sulitnya proses visa dan kurangnya infrastruktur bagi turis," ujar laman tur asal Inggris soal wisata ke Guinea Khatulistiwa.

Di sisi lain, harga Sipopo yang mencapai USD 224 atau 3,4 juta per malam untuk kamar termurah pun masih dianggap terlalu mahal bagi warga setempat.

Hal ini dikarenakan lebih dari 2.3 warga Guinea Khatulistiwa hidup di bawah garis kemiskinan, sementara 55% warga yang sudah berusia di atas 15 tahun menjadi pengangguran.