Minggu, 16 Agustus 2026
Reza Sulaiman : Kamis, 17 Juli 2025 | 18:00 WIB

guideku.com - Belakangan ini jagat berita lagi dihebohkan sama kasus dugaan korupsi raksasa di Kementerian Pendidikan era Nadiem Makarim. Korupsi ini bukan soal gedung atau buku, tapi soal pengadaan laptop senilai total Rp9,9 triliun! Dan pusat dari semua drama ini adalah sebuah perangkat bernama Chromebook.

Nama ini mungkin kedengeran asing buat sebagian dari kita. Kenapa sih laptop jenis ini yang dipilih? Dan kenapa pula pilihan ini justru jadi bumerang yang menyeret banyak pejabat, bahkan sampai Nadiem sendiri harus bolak-balik diperiksa Kejagung?

Biar nggak ikut-ikutan bingung, yuk kita kenalan lebih dekat sama si "biang kerok" ini.

Apa Itu Chromebook?

Gampangnya, Chromebook itu adalah laptop yang pakai sistem operasi (OS) buatan Google, namanya Chrome OS. Coba deh bayangin hape Android-mu, tapi dalam bentuk laptop. Nah, kira-kira kayak gitu.

Beda banget sama laptop Windows atau MacBook yang bisa kamu jejali berbagai macam software berat, Chromebook ini dirancang buat kerja secara online dan berbasis cloud. Artinya, hampir semua aplikasi dan datamu itu disimpen di internet (lewat Google Drive, Google Docs, dll), bukan di dalam laptopnya sendiri.

Tampilannya pun mirip banget sama sistem Android, lengkap dengan App Drawer dan akses ke Google Play Store. Jadi, kamu bisa download aplikasi-aplikasi Android di laptop ini.

Spesifikasinya 'Kentang'? Emang Sengaja Dibuat Begitu!

Kalau kamu lihat spesifikasi Chromebook, jangan kaget kalau kelihatannya "sederhana" atau bahkan "kentang" banget.

  • Prosesor: Biasanya pakai Intel Celeron atau MediaTek, bukan Core i5 atau i7.
  • RAM: Rata-rata cuma 4 GB.
  • Penyimpanan: Ini yang paling beda. Penyimpanannya kecil banget, biasanya cuma 32 GB atau 64 GB, karena tujuannya memang buat simpen data di cloud.
  • Layar: Ukurannya kompak, antara 11-14 inci.

Spesifikasi "sederhana" ini sengaja dibuat biar harganya bisa ditekan semurah mungkin. Di pasaran Indonesia, harga Chromebook baru itu berkisar antara Rp3 jutaan sampai Rp5 jutaan. Jauh lebih murah kan dibanding laptop Windows?

Kelebihan dan Kekurangan yang Wajib Kamu Tahu

Kelebihannya:

  • Harga Murah: Jelas ini daya tarik utamanya.
  • Super Aman: Dilengkapi chip keamanan khusus dari Google dan dapat update otomatis sampai 10 tahun. Sulit kena virus.
  • Baterai Awet: Karena sistemnya ringan, baterainya bisa tahan 8-10 jam.
  • Anti Lemot: Prosesornya boleh sederhana, tapi karena OS-nya ringan, buat browsing, ngetik, atau nonton YouTube dijamin ngebut.

Kekurangannya (dan ini yang jadi masalah utama):

  • Wajib Ada Internet: Ini kelemahan paling fatalnya. Tanpa koneksi internet yang stabil, Chromebook ini fungsinya jadi terbatas banget, hampir kayak talenan.
  • Penyimpanan Lokal Mungil: Jangan harap bisa nyimpen banyak film atau game di laptop ini.
  • Nggak Cocok Buat Tugas Berat: Mau ngedit video pakai Adobe Premiere atau desain pakai Photoshop? Lupakan saja. Laptop ini bukan buat itu.

Jadi, Kenapa Jadi Biang Kerok Korupsi?

Nah, di sinilah letak masalahnya. Proyek Kemendikbudristek ini ditujukan untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia, termasuk di daerah 3T (terdepan, tertinggal, terluar).

Kita semua tahu kan, jangankan internet kenceng, sinyal telepon aja kadang susah di daerah-daerah itu. Memberikan laptop yang sangat bergantung pada internet ke sekolah yang bahkan nggak punya akses internet stabil itu jelas sebuah keputusan yang sangat aneh dan nggak tepat sasaran.

Inilah yang kemudian memicu kecurigaan Kejaksaan Agung. Ada dugaan "pemufakatan jahat" di balik pemilihan laptop ini. Apakah ada pihak yang sengaja memilih Chromebook biar dapat untung lebih besar dari selisih harga? Atau ada permainan lain di belakangnya?

Nadiem sendiri sempat membela diri dengan bilang kalau Chromebook itu lebih murah dan lebih aman. Tapi, pembelaan itu seolah nggak cukup kuat untuk menjawab pertanyaan mendasar: buat apa laptop canggih kalau nggak bisa dipakai secara maksimal karena nggak ada internet?

Kasus ini jadi pelajaran pahit bahwa teknologi secanggih apa pun bakal sia-sia kalau nggak diimbangi dengan infrastruktur dan pemahaman akan kondisi nyata di lapangan.