guideku.com - Kiita semua tahu kan betapa saktinya Kecerdasan Buatan (AI) kayak ChatGPT sekarang? Dari mulai bikin caption Instagram, ngerjain tugas kuliah, sampai ngasih ide resep masakan, rasanya semua bisa ditanyain ke dia.
Tapi, ada sebuah kisah horor dari dunia nyata yang jadi pengingat paling keras: jangan pernah, sekali lagi, jangan pernah, bertanya soal kesehatan ke robot!
Seorang pria berusia 60 tahun harus dilarikan ke rumah sakit jiwa (RSJ) dan nyaris keracunan setelah dengan polosnya mengikuti saran diet fatal yang diberikan oleh ChatGPT.
Awal Mula 'Petaka': Cuma Nanya Alternatif Garam
Cerita ini, yang sampai dipublikasikan di jurnal medis internasional, berawal dari niat yang sangat baik. Si bapak ini pengen hidup lebih sehat dengan mengurangi asupan garam dapur (natrium klorida). Karena bingung mau pakai pengganti apa, ia pun bertanya ke "maha guru" zaman sekarang: ChatGPT.
Dan di sinilah "jurus sesat" itu dimulai. Tanpa disangka, ChatGPT dengan super pede menyarankan si bapak untuk mengganti garamnya dengan natrium bromida.
Percaya 100% sama saran teknologi canggih itu, si bapak langsung membeli natrium bromida secara online dan mulai memakainya sebagai pengganti garam di masakannya sehari-hari. Ia melakukan ini selama tiga bulan.
3 Bulan Kemudian: Paranoid, Halusinasi, dan Coba Kabur dari RS
Akibatnya fatal. Kondisi si bapak mulai aneh. Awalnya, tetangganya curiga ia jadi korban peracunan. Begitu dibawa ke rumah sakit, kondisi mentalnya makin ambyar.
- Ia jadi super paranoid, bahkan curiga sama cairan infus yang diberikan kepadanya.
- Dalam waktu kurang dari 24 jam, ia mulai mengalami halusinasi audio dan visual yang parah.
- Perilakunya jadi sangat tidak menentu sampai ia mencoba melarikan diri dari rumah sakit.
'Diagnosis' Ngeri: Keracunan Zat Kimia Buat Bersih-bersih Industri
Para dokter yang kebingungan akhirnya menemukan penyebabnya. Si bapak didiagnosis menderita bromisme, sebuah sindrom keracunan langka akibat paparan berlebihan terhadap senyawa bromin.
Dan FYI, Gengs. Natrium bromida itu bukan bahan makanan. Itu adalah senyawa kimia yang umumnya dipakai buat keperluan pembersihan industri! ChatGPT pada dasarnya sudah menyuruh orang ini untuk makan sabun pembersih.
"Sangat kecil kemungkinan seorang pakar medis akan menyebutkan natrium bromida ketika berhadapan dengan pasien yang mencari pengganti natrium klorida yang layak," begitu bunyi salah satu bagian dari jurnal medis yang membahas kasus ini.
Pelajaran Paling Mahal: AI Itu Bukan Dokter!
Setelah dirawat intensif di unit psikiatri, kondisi si bapak akhirnya membaik. Tapi ia masih harus menanggung sisa-sisa efek keracunan, dari mulai kelelahan ekstrem, jerawat, sampai kurangnya koordinasi otot.
Cerita ini jadi wake-up call super keras. Kita di Indonesia suka banget kan "nge-Googling" gejala penyakit atau cari "obat herbal" di internet? Nah, bertanya ke AI itu level bahayanya bisa lebih tinggi lagi, karena jawabannya terasa sangat personal dan meyakinkan.
Padahal, pengembang ChatGPT sendiri, OpenAI, sudah nulis gede-gede di aturan mainnya kalau layanan mereka tidak boleh digunakan untuk diagnosis atau pengobatan kondisi kesehatan apa pun.
Ironisnya, sebuah survei menunjukkan kalau 35% orang di AS sudah pakai AI buat ngelola kesehatan mereka, bahkan lebih percaya AI daripada influencer.
Jadi, pelajaran hari ini jelas banget. AI itu alat yang keren buat bantu nulis atau cari ide. Tapi kalau sudah menyangkut nyawa dan kesehatanmu, jangan pernah gantiin peran dokter, apoteker, atau ahli gizi profesional dengan "omon-omon" dari robot. Jadilah pengguna AI yang cerdas, bukan yang pasrah.
Terkini
- Tenteng Barang Ratusan Juta, Gaya 'Sweet Seventeen' Putri AHY Ini Bikin Netizen Auto Iri
- Kangkung Pinkan Mambo Dihargai Rp 150 Ribu, Rasanya 'Kayak Masakan Mama di Rumah Aja'
- Lisa Mariana Ngaku Terima Duit dari Ridwan Kamil Sejak 2021, KPK Selidiki Aliran Dana Korupsi BJB
- Duit Rp 1 Miliar vs Panggilan Haji, Paramitha Rusady Diuji Iman Tingkat Dewa Sesaat Sebelum Berangkat
- Drama Royalti Musik: Ariel Ngadu ke DPR, Dhani Balas Nyinyir di Instagram