Rabu, 01 Juli 2026
Reza Sulaiman : Rabu, 20 Agustus 2025 | 16:30 WIB

guideku.com - Siap-siap buat ikut emosi berjamaah. Artis yang kini jadi anggota dewan, Nafa Urbach, baru saja "menyulut api" dengan pernyataannya yang membela kenaikan gaji anggota DPR RI sebesar Rp 50 juta. Di tengah kondisi ekonomi yang serba susah, pembelaan ini sontak jadi bulan-bulanan netizen.

Dan yang bikin argumennya makin jadi bahan "gorengan"? Ia menjadikan kemacetan dari Bintaro ke Senayan sebagai salah satu contoh penderitaan para anggota dewan.

Bongkar 'Logika Aneh' Nafa Urbach: 'Mereka Gak Dapet Rumah Dinas, Kasihan'

Dalam sebuah video yang viral, Nafa Urbach mencoba menjelaskan kenapa kenaikan gaji ini "wajar". Menurutnya, ini adalah kompensasi karena sekarang anggota DPR tidak lagi dapat fasilitas rumah dinas.

"Dewan itu tidak dapat rumah jabatan, dikarenakan banyak sekali anggota dewan yang dari luar kota," ujar Nafa Urbach, Selasa (18/8/2025).

Kondisi ini, katanya, memaksa banyak rekannya untuk sewa atau kontrak rumah di dekat Senayan biar nggak telat ngantor. "Maka dari itu, banyak sekali anggota dewan yang kontrak di dekat Senayan," katanya.

Puncak 'Komedi': Curhatan Macet dari Bintaro

Nah, di sinilah argumennya jadi super kontroversial. Untuk memperkuat alasannya, mantan istri Zack Lee ini justru menjadikan pengalaman pribadinya sebagai contoh penderitaan.

"Saya aja yang tinggalnya di Bintaro, itu macetnya tuh luar biasa," katanya mengeluh.

Sebuah curhatan yang mungkin terdengar wajar, tapi jadi sangat "tidak peka" jika diucapkan oleh seorang pejabat publik yang sedang meminta kenaikan gaji.

'Pengadilan' Netizen Dimulai: 'Orang Bogor Sebelum Subuh Udah OTW!'

Nggak butuh waktu lama, "pengadilan" netizen langsung digelar di kolom komentar. Pembelaan Nafa Urbach justru jadi bumerang yang super telak. Netizen ramai-ramai membandingkan "penderitaan" macet dari Bintaro dengan perjuangan nyata para pekerja dari kota penyangga lainnya.

"Orang Bogor kerja di Jakarta, sebelum subuh sudah otw. Desek-desekan di KRL. Tapi mereka enggak dapat tunjangan rumah dinas bu," tulis akun @puj*, sebuah komentar yang langsung menampar realita.

"Heellooowww dipikir DPR doang yang kaya gitu. Noh buruh juga gitu ngontrak pake uang sendiri," timpal akun @yun*.

Banyak juga yang menyindir, jika memang macet jadi masalah, kenapa tidak ikut merasakan perjuangan rakyat dengan menggunakan transportasi umum, bukannya malah minta tambahan gaji untuk sewa apartemen mewah di dekat Senayan.

Pelajaran dari 'Curhatan' Anggota Dewan

Drama Nafa Urbach ini jadi cermin besar dari betapa jauhnya kadang "jarak" antara para pembuat kebijakan dengan realita yang dihadapi oleh rakyat yang mereka wakili.

Apa yang bagi mereka mungkin sebuah "masalah", bagi kita adalah perjuangan sehari-hari yang harus dihadapi tanpa ada tunjangan atau kenaikan gaji.

Ini jadi pengingat keras bahwa menjadi pejabat publik itu artinya harus siap punya "kuping" yang lebih lebar dan "hati" yang lebih peka. Karena satu keluhan yang salah tempat, bisa jadi "bensin" yang menyulut api kemarahan se-Indonesia. Gimana menurutmu?