guideku.com - Drama soal royalti musik di Indonesia lagi-lagi "meledak", dan kali ini apinya disulut oleh salah satu gitaris dan pencipta lagu paling legendaris di negeri ini: Piyu Padi Reborn. Nggak pake basa-basi, Piyu melontarkan kritik super pedas yang menohok langsung ke jantung Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), lembaga yang tugasnya nagihin royalti musik.
Menurut Piyu, sistem yang ada sekarang ini bobrok. Ia menyoroti sebuah ironi yang super nyesek: di saat banyak pencipta lagu hidup sengsara, para komisioner LMKN justru menikmati gaji puluhan juta rupiah yang sumbernya dari keringat para musisi itu sendiri.
'Terus Mereka Kerjanya Apa?'
Kritik Piyu ini kembali memanas setelah drama royalti antara Ari Lasso dan WAMI. Menurut Piyu, ini bukan kasus baru, tapi bukti kalau sistem di LMKN memang bermasalah dari dulu. Ia mempertanyakan, ke mana sebenarnya lari duit royalti yang sudah dikumpulkan bertahun-tahun?
Dan di sinilah "bom"-nya meledak. Piyu menyoroti pengangkatan komisioner-komisioner baru di LMKN.
"Terus tadi saya baca berita, LMKN baru saja mengangkat komisioner-komisioner baru dengan gaji Rp30 juta-an, nah itu gaji dari mana? Dari uang royaltinya pencipta-pencipta yang dikumpulin," kata Piyu di YouTube dr. Richard Lee, Kamis (21/8/2025).
"Terus mereka kerjanya apa kalau dari tahun 2014 sampai sekarang penciptanya juga masih tetap sengsara hidupnya," sambungnya. Sebuah pertanyaan retoris yang super telak.
Realita Pahit di Balik Lagu-lagu Hits
Piyu nggak cuma asal ngomong. Ia membongkar realita pahit yang sering ia temui di balik panggung gemerlap. Ternyata, banyak banget pencipta lagu, bahkan yang lagu-lagunya mungkin sering kita nyanyiin, hidup dalam kesulitan finansial.
"Hampir setiap hari saya tuh dapat WA dari keluarga dan teman-teman pencipta yang buat beli beras aja susah," ujarnya.
Kondisi inilah yang bikin kritiknya jadi makin tajam. "Bayangin mereka bisa nikmatin gaji Rp30 juta dari royalti yang dikumpukan," tegas Piyu.
Modus 'Pinjam Nama' & Jawaban 'Lempar Tanggung Jawab'
Lebih jauh, Piyu membongkar "akal bulus" yang diduga sering dipakai oleh LMK (Lembaga Manajemen Kolektif) di bawah LMKN. Menurutnya, mereka sering "memanfaatkan nama komposer untuk menagih atas nama pencipta."
Gampangnya, mereka datang ke kafe, hotel, atau karaoke sambil bawa nama-nama besar kayak Piyu, Ahmad Dhani, atau Melly Goeslaw biar penagihannya jadi lebih gampang.
Tapi, giliran para pencipta lagu ini mencoba minta laporan pertanggungjawaban soal duit yang sudah dikumpulkan, jawabannya justru "lempar tanggung jawab".
"Ketika kami menagih amanat itu [...] mereka menjawab ‘kami tidak bertanggung jawab pada pencipta lagu, tapi kepada menteri hukum dan HAM'," ungkap Piyu.
Bikin Penyanyi & Pencipta Jadi Berantem
Menurut Piyu, sistem yang amburadul inilah yang akhirnya jadi biang kerok ketegangan antara penyanyi dan pencipta lagu, seperti yang terjadi antara Once dan Ahmad Dhani, atau Ari Lasso dengan WAMI.
"Hal ini memang akhirnya menjadi pemicu retaknya hubungan yang harmonis antara penyanyi dan pencipta lagu, karena memang ada yang mengatur ini supaya memang berantem," jelasnya.
Padahal, kata Piyu, kalau saja sistem royalti ini dijalankan dengan benar sesuai Undang-Undang Hak Cipta, nggak akan ada drama-drama seperti ini.
Kritik pedas dari Piyu ini jadi tamparan keras buat industri musik kita. Ini bukan lagi sekadar soal duit, tapi soal keadilan dan penghargaan terhadap para kreator yang karyanya sudah menemani hari-hari kita. Gimana menurutmu, Gengs?
Terkini
- Tenteng Barang Ratusan Juta, Gaya 'Sweet Seventeen' Putri AHY Ini Bikin Netizen Auto Iri
- Kangkung Pinkan Mambo Dihargai Rp 150 Ribu, Rasanya 'Kayak Masakan Mama di Rumah Aja'
- Lisa Mariana Ngaku Terima Duit dari Ridwan Kamil Sejak 2021, KPK Selidiki Aliran Dana Korupsi BJB
- Duit Rp 1 Miliar vs Panggilan Haji, Paramitha Rusady Diuji Iman Tingkat Dewa Sesaat Sebelum Berangkat
- Drama Royalti Musik: Ariel Ngadu ke DPR, Dhani Balas Nyinyir di Instagram