Kamis, 02 Juli 2026
Reza Sulaiman | Anggia Khofifah P : Senin, 07 Juli 2025 | 14:33 WIB

guideku.com - Menjelang pertengahan tahun, orang-orang lagi rame ngomongin fenomena langit yang jarang disadari tapi rutin terjadi setiap tahun, yaitu Aphelion.

Pada tahun 2025 ini, fenomena itu terjadi pada 4 Juli pukul 02.54 WIB, di mana jarak Bumi ke Matahari mencapai sekitar 152 juta kilometer, atau sekitar 5 juta kilometer lebih jauh dari jarak rata-rata (149,6 juta km) menurut data dari In The Sky.

Kamu penasaran nggak, sebenernya Aphelion itu apa, sih? Ada dampak berbahayanya nggak buat Bumi? Yuk, kita bahas satu-satu!

Apa Itu Aphelion?

Simpelnya, Aphelion adalah titik terjauh Bumi dari Matahari dalam orbitnya yang berbentuk elips. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu apo (jauh) dan helios (Matahari). Lawan dari Aphelion adalah Perihelion, yaitu saat Bumi berada paling dekat dengan Matahari, yang biasanya terjadi setiap awal Januari.

Karena orbit Bumi berbentuk elips, maka jarak antara Bumi dan Matahari nggak melulu sama sepanjang tahun. Saat Aphelion, Matahari bakal kelihatan sedikit lebih kecil kalau dilihat dari Bumi—meskipun perbedaannya sangat kecil dan nyaris nggak terlihat tanpa alat bantu.

Apakah Aphelion Bakal Bikin Bumi Jadi Lebih Dingin?

Jawabannya adalah enggak. Menurut BMKG, Aphelion enggak secara langsung jadi penyebab penurunan suhu ekstrem di Indonesia. Meski intensitas sinar matahari emang sedikit berkurang saat Aphelion (sekitar 7% lebih rendah dibanding saat Perihelion), dampaknya terhadap cuaca di permukaan Bumi, khususnya Indonesia, kecil banget.

Yang justru jadi penyebab udara terasa lebih dingin di beberapa wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan khatulistiwa kayak Jawa, Bali, sampai Nusa Tenggara, adalah karena angin muson timur. Angin ini bertiup dari Australia yang saat Juli lagi ngalamin musim dingin, membawa udara dingin dan kering ke wilayah Indonesia.

Masih dari penjelasan BMKG, selain karena angin muson, suhu dingin juga dipengaruhi oleh langit malam yang cerah tanpa awan (clear sky) saat musim kemarau.

Kurangnya awan jadi penyebab bikin panas radiasi dari Bumi di malam hari langsung terlepas ke atmosfer luar, nggak tersimpan di atmosfer. Hal inilah yang bikin suhu permukaan jadi lebih dingin, apalagi pas malam menuju pagi hari.

Fenomena ini bahkan bisa bikin embun es atau embun pas di dataran tinggi kayak Dieng—yang sering disangka salju oleh masyarakat.

Jadi, Aphelion Berbahaya Nggak?

Lagi-lagi jawabannya adalah enggak. Aphelion itu cuma fenomena alami dan rutin, bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Ia cuma bagian dari dinamika orbit Bumi di tata surya.

Cuaca dingin yang mungkin terjadi pada Juli–Agustus di Indonesia lebih disebabkan oleh kondisi musiman dan bukan akibat langsung dari Aphelion.

Fenomena Aphelion memang menarik secara astronomis, tapi nggak perlu dikhawatirkan dari sisi cuaca. Nggak ada ancaman badai atau suhu ekstrem cuma karena Bumi lagi jauh dari Matahari.

Jadi, kalau kamu ngerasa malam hari rasanya dingin banget, penyebab utamanya bukan karena Aphelion, tapi karena musim kemarau dan pengaruh angin dari Australia. Semoga paham!