Kamis, 02 Juli 2026
Reza Sulaiman : Rabu, 23 Juli 2025 | 10:15 WIB

guideku.com - Kabar dari Gaza, Palestina, ini dijamin bakal bikin kita semua marah, sedih, dan nggak habis pikir. Di tengah kelaparan massal yang melanda, momen yang seharusnya jadi secercah harapan, yaitu pembagian bantuan kemanusiaan, justru berubah menjadi ladang pembantaian.

Kementerian Kesehatan Gaza merilis data yang sangat mengerikan. Lebih dari 1.020 warga sipil Palestina tewas ditembak oleh militer Israel justru saat mereka sedang antre atau mengambil bantuan. Dan yang lebih bikin nyesek, banyak dari insiden ini terjadi di lokasi distribusi yang dikelola oleh Amerika Serikat.

'Perangkap Maut' Berkedok Bantuan

Ini bukan insiden tunggal. Menurut data yang dirilis Kemenkes Gaza, sejak 27 Mei, sudah terjadi rentetan serangan yang menargetkan para pencari bantuan. Selain 1.020 orang yang tewas, lebih dari 6.500 lainnya terluka.

Saking seringnya kejadian ini, sejumlah pejabat dan lembaga PBB bahkan sampai mengecam mekanisme bantuan yang ada sebagai "perangkap maut". Warga sipil yang putus asa karena kelaparan terpaksa mengambil risiko mendatangi titik-titik distribusi ini, hanya untuk menjadi sasaran empuk tembakan.

Dalam 24 jam terakhir saja, dilaporkan ada 95 warga sipil tewas ditembak saat menunggu bantuan, dan 19 orang lainnya tewas karena kelaparan.

Angka Sebenarnya Jauh Lebih Mengerikan?

Kalau kamu pikir angka korban yang selama ini beredar sudah cukup mengerikan, siap-siap buat lebih syok lagi. Sebuah laporan mengejutkan datang dari surat kabar harian Israel sendiri, Haaretz. Menurut laporan mereka, angka kematian warga Palestina di Gaza sebenarnya jauh lebih tinggi.

Laporan Haaretz mengungkap, hampir 100.000 warga Palestina telah tewas sejak perang dimulai. Angka ini setara dengan empat persen dari total populasi di Gaza!

Kenapa angkanya bisa beda jauh dengan data resmi Kemenkes Gaza (sekitar 59.000 jiwa)? Karena Haaretz juga menghitung korban jiwa yang berjatuhan akibat dampak tidak langsung dari perang, seperti:

  • Kelaparan massal.
  • Wabah penyakit akibat sistem kesehatan yang lumpuh.
  • Cuaca dingin ekstrem tanpa tempat berlindung yang layak.

Analisis Pakar: Salah Satu Konflik Paling Berdarah di Abad ke-21

Laporan Haaretz ini diperkuat oleh analisis dari pakar kelas dunia, Profesor Michael Spagat dari Universitas London. Penelitiannya menyimpulkan bahwa pada Januari 2025 saja, sekitar 75.200 orang meninggal akibat kekerasan di Gaza, mayoritas karena amunisi Israel.

Dan inilah fakta yang paling memilukan dari penelitiannya: 56 persen dari mereka yang tewas secara mengenaskan adalah anak-anak di bawah 18 tahun dan perempuan.

"Itu angka yang luar biasa jika dibandingkan dengan hampir setiap konflik lain sejak Perang Dunia II," tulis Haaretz.

Spagat bahkan menyebut perang Gaza sebagai "salah satu konflik paling berdarah di abad ke-21". Proporsi perempuan dan anak-anak yang terbunuh di Gaza disebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan konflik besar lainnya seperti di Kosovo, Suriah, atau Sudan.

"Saya tidak yakin ada kasus lain di abad ke-21 yang mencapai angka setinggi itu (4 persen dari populasi terbunuh)," kata Spagat.

Proses Hukum Internasional Terus Berjalan

Di tengah semua kengerian ini, proses hukum internasional sebenarnya terus berjalan. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sudah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk pemimpin Israel, Benjamin Netanyahu, atas dugaan kejahatan perang. Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ).

Kisah ini adalah pengingat pahit bahwa di belahan dunia lain, kemanusiaan sedang diinjak-injak dengan cara yang paling brutal. Bantuan yang seharusnya menyelamatkan nyawa, justru menjadi umpan menuju kematian.