guideku.com - Sebuah video yang kini viral di media sosial merekam tindakan kekerasan yang levelnya sudah di luar nalar. Seorang ayah dengan tega menyiksa anak kandungnya sendiri yang baru berusia 5 tahun.
Pemicunya? Sesuatu yang sangat sepele dan sama sekali tidak masuk akal. Ini bukan cuma cerita kriminal. Ini adalah potret kelam dari bagaimana seorang anak bisa menjadi pelampiasan amarah orang dewasa yang tak berdosa.
Gimana Sih Kejadian Mulanya?
Dalam rangkaian video yang beredar, terlihat jelas bagaimana pelaku berinisial ENC melampiaskan kemarahannya pada sang anak, AUT (5). Penyebabnya? Cuma karena ia kesal video call-nya tidak dijawab oleh istrinya, yang merupakan ibu dari si bocah malang itu.
Baca Juga
Logika bengkok ini terekam jelas dalam ucapan pelaku. Sambil menampar anaknya berulang kali, ia berteriak dengan penuh emosi.
“Bundamu tak videocall, tidak angkat lagi, jadi kamu yang tak tapok,” teriak pelaku dalam rekaman tersebut.
Bayangkan, Gengs. Seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa harus menanggung siksaan fisik hanya karena masalah antara kedua orang tuanya. Ia dijadikan "samsak tinju" untuk kemarahan yang sama sekali bukan salahnya.
Kok Sampai Disuruh Minum Air Kloset?
Jika tamparan itu sudah cukup membuat kita geram, adegan di video ketiga benar-benar melampaui batas kemanusiaan. Dalam video itu, ENC terlihat dengan santai mengambil air dari dalam kloset menggunakan sebuah gelas, lalu memaksa anaknya untuk meminumnya.
Dalam kondisi ketakutan dan menangis, si bocah malang itu mencoba menuruti perintah ayahnya. "Minum! Habisin," bentak ENC dalam video. Sebuah pemandangan yang dijamin bikin siapa pun yang melihatnya merasa hancur.
Polisi Bertindak, Netizen Ngamuk
Untungnya, setelah video ini viral dan memicu kemarahan massal, pihak kepolisian bergerak cepat. Polres Demak berhasil mengamankan pelaku dan juga korban. Kini, AUT yang malang sudah berada dalam perlindungan lembaga pendamping anak untuk menjalani pemeriksaan fisik dan pemulihan trauma.
Sementara itu, jagat media sosial meledak dengan kecaman. Warganet ramai-ramai mendesak agar pelaku dihukum seberat-beratnya menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak, agar tidak ada lagi monster berkedok ayah yang tega melakukan hal serupa.
Gengs, kasus ini nggak boleh cuma lewat sebagai tontonan viral yang bikin kita marah sesaat. Ada pelajaran pahit di baliknya yang wajib jadi pengingat buat kita semua.
Anak Bukan Pelampiasan
Ini yang paling utama. Sebesar apa pun masalahmu dengan pasangan, teman, atau pekerjaan, anak tidak pernah boleh jadi target pelampiasan emosimu. Mereka adalah kanvas kosong yang harusnya diisi dengan cinta, bukan luka.
Kekerasan Akan Selalu Meninggalkan Bekas
Luka fisik mungkin bisa sembuh, tapi trauma psikologis akibat kekerasan seperti ini akan membekas seumur hidup. Ini bisa merusak perkembangan mental seorang anak selamanya.
Jangan Diam! Berani Lapor!
Kasus ini terbongkar karena videonya viral. Ini bukti bahwa kepedulian kita bisa menyelamatkan nyawa. Kalau kamu melihat atau mencurigai adanya kekerasan pada anak di lingkunganmu, jangan pernah takut untuk melapor ke pihak berwajib, RT/RW, atau lembaga perlindungan anak. Diamnya kita bisa berarti penderitaan yang lebih panjang bagi korban.
Semoga AUT bisa pulih sepenuhnya dari trauma ini dan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik. Dan semoga pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya yang tidak bisa dimaafkan.
Tag
Terkini
- Tantangan Pengangguran Muda Menguat, YES 2025 Dorong Arah Baru Ekonomi Hijau, Digital, dan Hilirisasi
- Saat Merek Lain Perang Harga, VinFast Justru Punya Jurus Beda Buat Rebut Hati Orang Indonesia
- Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau
- Bukan Cuma Angka: Ini Cerita Nyata Pengguna BSya yang Penuh Berkah
- Nabung Haji Sampai Investasi Emas, Semua Bisa dari Satu Aplikasi Super BSya