Rabu, 01 Juli 2026
Reza Sulaiman : Rabu, 30 Juli 2025 | 16:52 WIB

guideku.com - Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), baru saja turun gunung dan memberikan sebuah pidato yang isinya "daging" semua. Dengan gaya intelektualnya yang khas, SBY ngasih peringatan keras buat para pemimpin agar tidak bermain-main dengan kekuasaan, karena akibatnya bisa fatal: negara bisa hancur.

Pidatonya yang penuh dengan kutipan dari sejarawan dan sastrawan dunia ini sontak bikin banyak orang bertanya-tanya. Dengan semua sentilan soal kekuasaan absolut dan penyalahgunaan wewenang, kira-kira SBY lagi "nyolek" siapa, ya?

Peringatan Keras: 'Jangan Bermain-main dengan Kekuasaan!'

Dalam acara di Menara Bank Mega, Rabu (30/7/2025), SBY mengutip pemikiran sejarawan Inggris, Lord Acton, yang super legendaris.

"Jangan bermain-main dengan kekuasaan. Jangan menyalahgunakan kekuasaan, ingat, power tends to corrupt. Absolute power tends to corrupt absolutely," tegas SBY. (Kekuasaan cenderung korup. Kekuasaan absolut cenderung korup secara absolut).

Peringatan ini, kata SBY, jadi makin relevan di era modern yang penuh dengan ancaman baru, seperti kecerdasan buatan, disinformasi digital, sampai senjata biologis.

'Kode Keras' Lewat Sejarah Raja Prancis

Nah, di sinilah "senggolan" paling kerasnya muncul. SBY bercerita soal para pemimpin Prancis sebelum Revolusi 1789, seperti Raja Louis XIV dan Louis XVI, yang memerintah secara absolut. Menurutnya, para pemimpin itu menempatkan diri mereka di atas segalanya.

"Bahkan dikatakan 'L'état c'est moi', negara adalah saya, hukum adalah saya, konstitusi adalah saya, keadilan adalah saya, suara rakyat adalah saya, jangan-jangan mengatakan Tuhan adalah saya," beber SBY.

Sebuah sindiran super telak yang seolah-olah ditujukan pada pemimpin mana pun yang merasa dirinya adalah pusat dari segalanya, mengabaikan hukum, konstitusi, dan suara rakyat. Hmm, kira-kira siapa ya yang merasa begini?

Sentilan Lanjutan: Miliarder ke Luar Angkasa, 24 Juta Rakyat Masih Miskin

Kritik SBY nggak berhenti di situ. Ia juga menyoroti ironi yang menyakitkan di zaman sekarang: ketimpangan yang luar biasa.

Ia menyebut, di saat Indonesia punya 24 juta penduduk yang masih hidup dalam kemiskinan, di belahan dunia lain justru ada fenomena yang kontras.

"Ini adalah krisis keadilan global. Di satu sisi, kita melihat miliarder berlomba-lomba pergi ke ruang angkasa. Di sisi lain, jutaan manusia masih berjuang untuk bisa makan sehari-harinya," katanya.

Sebuah sentilan yang bukan cuma ditujukan untuk para miliarder dunia, tapi juga jadi pengingat bagi para pemimpin di dalam negeri untuk tidak lupa pada masalah paling mendasar: perut rakyat.

Tentu saja, SBY tidak menyebut nama secara langsung. Gaya bicaranya yang diplomatis dan penuh dengan referensi sejarah membuatnya sulit untuk "diserang" balik.

Tapi, di tengah panasnya situasi politik pasca-pemilu, sulit untuk tidak mengaitkan pidatonya ini dengan kondisi terkini. "Kode-kode keras" soal pemimpin absolut dan penyalahgunaan kekuasaan ini seolah menjadi sebuah refleksi kritis terhadap era pemerintahan yang baru saja berlalu dan mungkin, sebuah peringatan untuk era yang akan datang.

Pada akhirnya, SBY mengajak para pemimpin untuk lebih banyak berpikir secara mendalam (deep thinking), melihat jauh ke depan, dan bertindak lebih bijak. Sebuah nasihat yang, terlepas dari siapa pun yang disindir, sangat relevan untuk siapa saja yang sedang memegang amanah kekuasaan. Gimana menurutmu, Gengs?