guideku.com - Di tengah hingar bingar pesta rakyat, ada sebuah kisah dari Kediri, Jawa Timur, yang jadi bukti nyata betapa berbahayanya saat "hiburan" berubah menjadi teror. Seorang warga bernama Pak Eko kini harus hidup dalam ketakutan dan pengucilan sosial.
Dosanya? Cuma satu: ia berani memprotes kegiatan pawai sound horeg yang mengganggu orang tuanya yang sedang sakit.
Perjuangannya melawan "kerajaan" sound horeg ini bukan cuma soal adu mulut. Ini adalah kisah tentang intimidasi, ketidakpedulian aparat desa, dan bagaimana satu orang bisa "dibunuh" secara sosial hanya karena mencoba mempertahankan haknya atas ketenangan.
Kronologi Teror 8 Jam Non-stop di Depan Rumah
Baca Juga
Semua mimpi buruk ini terjadi saat pawai sound horeg digelar di desanya. Bukannya lewat begitu saja, rombongan pawai ini sengaja berhenti tepat di depan rumah Pak Eko.
Mereka lalu menyalakan "monster audio" mereka dengan volume maksimal, dari siang bolong sampai malam buta.
“Kita diteror pak, mulai jam 13.30 sampai jam 9 malam. Di depan rumah itu bahkan sound itu dihadapkan ke rumah, dimatikan dulu, lalu disetel sekeras-kerasnya,” ujar Pak Eko dalam aduannya kepada Radio Andika.
Bayangin, delapan jam lebih rumahmu digetarkan oleh dentuman bass yang bisa merontokkan genteng. Dan yang lebih bikin nyesek, semua ini terjadi saat orang tuanya sedang sakit dan butuh istirahat.
Bukan Cuma Diteror, tapi Juga 'Dibunuh' Secara Sosial
Setelah berhasil mendapatkan perhatian dari Polres Kediri, teror fisik mungkin berhenti. Tapi, teror sosial justru baru dimulai. Pak Eko kini menjadi sasaran kampanye negatif dari para pendukung sound horeg.
“Foto kami disebar di antara mereka, bahwa ‘ini lho yang menghambat keberadaan Sound Horeg’,” tuturnya.
Ia dan keluarganya kini dikucilkan. Warga sekitar yang mungkin takut dengan "kekuatan" komunitas sound horeg ini mulai menjauhinya. Sebuah hukuman sosial yang kejam karena ia berani bersuara.
Warga Lain Juga Takut Bersuara?
Ternyata, ini bukan pertama kalinya Pak Eko jadi korban. Ia mengungkap bahwa pada tahun 2022, ia juga pernah menjadi korban pengeroyokan setelah menegur rombongan sound horeg yang lain. Ini membuktikan adanya pola intimidasi dan kekerasan yang sudah mendarah daging.
Yang lebih miris, Pak Eko mengaku banyak warga lain yang sebenarnya juga resah. Apalagi karena panitia pawai diduga meminta iuran paksa hingga Rp500 ribu per kepala keluarga.
Tapi, mereka semua memilih diam karena takut mengalami nasib yang sama seperti Pak Eko. Beberapa bahkan sampai memilih mengungsi sementara dari desa saat pawai berlangsung.
Di Balik Pesta, Ada Fatwa Haram MUI
Fenomena sound horeg ini memang sudah jadi masalah pelik. Di balik kemeriahannya, ada sisi gelap yang serius:
- Risiko Kesehatan: Tingkat kebisingannya bisa mencapai lebih dari 120 desibel, jauh di atas ambang batas aman yang bisa menyebabkan kerusakan pendengaran permanen.
- Kerusakan Fisik: Getarannya terbukti bisa merusak bangunan rumah warga.
- Konflik Sosial: Memicu intimidasi, iuran paksa, dan perpecahan di masyarakat.
Saking meresahkannya, MUI Jawa Timur bahkan sudah mengeluarkan fatwa haram terhadap penggunaan sound horeg yang menimbulkan kerusakan dan gangguan.
Pemerintah daerah pun kini sedang berusaha menyusun regulasi ketat untuk mengendalikannya.
Kisah Pak Eko ini jadi tamparan keras. Ini bukan lagi soal hiburan, tapi soal premanisme berkedok budaya. Di saat banyak warga lain memilih diam karena takut, keberanian Pak Eko untuk bersuara adalah sebuah hal yang patut kita dukung. Semoga ia dan keluarganya segera mendapatkan perlindungan dan keadilan.
Terkini
- Tantangan Pengangguran Muda Menguat, YES 2025 Dorong Arah Baru Ekonomi Hijau, Digital, dan Hilirisasi
- Saat Merek Lain Perang Harga, VinFast Justru Punya Jurus Beda Buat Rebut Hati Orang Indonesia
- Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau
- Bukan Cuma Angka: Ini Cerita Nyata Pengguna BSya yang Penuh Berkah
- Nabung Haji Sampai Investasi Emas, Semua Bisa dari Satu Aplikasi Super BSya