guideku.com - Film animasi Merah Putih: One For All yang digarap buat nyambut HUT ke-80 RI tiba-tiba jadi topik panas di medsos. Bukan karena ceritanya yang heroik, tapi gara-gara kualitas grafisnya yang dinilai "meh" banget untuk ukuran film layar lebar.
Trailer-nya udah tayang di YouTube sejak awal Agustus, tapi bukannya banjir pujian, malah dihujani komentar pedas. Banyak warganet bilang animasinya kelihatan kayak belum jadi, tapi tetep dipaksain rilis. Ada yang nyeletuk, "Selesai nggak selesai dikumpulkan," bikin netizen lain auto setuju.
Dibandingin Sama Jumbo, Jatuhnya Langit dan Bumi
Perbandingan sama film animasi lokal Jumbo nggak terhindarkan. JUMBO yang rilis sebelumnya sukses besar dan dipuji kualitasnya, sedangkan Merah Putih: One For All dianggap jauh banget levelnya. Bahkan ada yang nyebut bedanya kayak "langit dan bumi".
Baca Juga
Beberapa akun YouTube dan X juga nemuin hal yang bikin makin ramai: dugaan penggunaan aset stok murah buat latar dan karakter. Misalnya, adegan jalan disebut pakai aset Street of Mumbai dari Daz3D. Karakter pun mirip banget sama aset di Reallusion Content Store dengan harga sekitar Rp700 ribuan per item.
Nah, yang bikin warganet makin gemas, produser Toto Soegriwo pernah bilang biaya produksi film ini tembus Rp6,7 miliar, tapi dikerjain kurang dari sebulan. Bandingin sama satu episode anime One Piece atau Demon Slayer yang biayanya Rp1,8 miliar tapi kualitasnya jauh di atas.
Kritik bukan cuma datang dari warganet biasa. Influencer Fathian Hafiz terang-terangan berharap film ini batal tayang di bioskop. Alasannya? Menurut dia, perfilman Indonesia lagi bagus-bagusnya, ada film kayak Sore: Istri dari Masa Depan dan Jumbo yang keren, eh tiba-tiba muncul film animasi yang dia nilai asal-asalan.
"Kalau film ini beneran tayang di bioskop, itu sama aja ngeludahin muka filmmaker lain yang udah kerja keras," tulis Fathian. Dia bahkan sarkas bilang film ini lebih cocok diputar di gedung KPK ketimbang bioskop.
Sutradara kondang Hanung Bramantyo juga heran, gimana caranya film ini bisa dapet jadwal tayang di bioskop, padahal antrean film lokal udah numpuk. Dia juga menyoroti kesan buru-buru ngerilis meski kualitas animasinya masih rendah.
Dari kubu kreator, produser Toto Soegriwo kayaknya santai aja. Dia cuma bilang, "Senyumin aja. Komentator lebih pandai dari pemain," sambil nyenggol soal postingan jadi viral. Soal tuduhan pakai aset stok murah, dia nggak kasih klarifikasi detail.
Sineas lain kayak Angga Dwimas Sasongko (Visinema) dan Ryan Adriandhy (sutradara Jumbo) memilih nggak mau banyak komentar. Ryan cuma bilang dia baca mention soal film ini, tapi mending fokus ke hal lain.
Tentang Filmnya
Merah Putih: One For All disutradarai Endiarto dan Bintang, diproduksi Perfiki Kreasindo dengan dukungan Kemenparekraf. Ceritanya berlatar di desa yang lagi siap-siap 17 Agustus. Ada sekelompok anak yang ditunjuk jadi "Tim Merah Putih" buat jaga bendera pusaka. Tapi sebelum upacara, benderanya hilang, dan mereka harus kerja sama buat nyelametin.
Film ini diklaim jadi animasi nasionalis pertama, rencananya tayang di bioskop 14 Agustus 2025. Bahkan Cinema XXI kasih promo tiket Rp17 ribu buat 17 Agustus. Sayangnya, hebohnya sekarang bukan di jalan ceritanya, tapi di kualitas animasi dan penggunaan anggaran yang bikin tanda tanya besar.
Apakah film ini bakal sukses membungkam kritik setelah tayang, atau malah makin jadi bahan perdebatan? Yang jelas, kontroversi Merah Putih: One For All udah jadi pelajaran penting: bikin film apalagi animasi nasionalis itu nggak cuma soal semangat, tapi juga soal kualitas yang bisa bikin penonton bangga.
Tag
Terkini
- Tantangan Pengangguran Muda Menguat, YES 2025 Dorong Arah Baru Ekonomi Hijau, Digital, dan Hilirisasi
- Saat Merek Lain Perang Harga, VinFast Justru Punya Jurus Beda Buat Rebut Hati Orang Indonesia
- Agroforestri, Tenun, sampai Rumput Laut: Cara Komunitas di Desa Bangun Ekonomi Hijau
- Bukan Cuma Angka: Ini Cerita Nyata Pengguna BSya yang Penuh Berkah
- Nabung Haji Sampai Investasi Emas, Semua Bisa dari Satu Aplikasi Super BSya