Kamis, 02 Juli 2026
Reza Sulaiman : Selasa, 19 Agustus 2025 | 08:30 WIB

guideku.com - Drama di Kabupaten Pati sepertinya masih jauh dari kata selesai. Setelah demo besar-besaran yang menuntut Bupati Sudewo mundur, kini muncul babak baru yang makin bikin heboh: sang bupati "menghilang" secara misterius di momen paling sakral, upacara HUT Kemerdekaan RI!

Pemandangan tak biasa ini sontak jadi buah bibir. Dan di tengah semua kekacauan ini, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, akhirnya "turun gunung" dan secara blak-blakan mengakui adanya kelalaian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati.

Saat Wagub Jadi Inspektur Dadakan di Pati

Bayangin deh, Gengs. Di upacara 17 Agustus yang seharusnya dipimpin oleh Bupati Sudewo, yang muncul di mimbar kehormatan justru Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin.

Ia harus datang jauh-jauh dari Semarang untuk jadi inspektur upacara dadakan di Pati. Alasan resminya? Bupati Sudewo berhalangan karena sakit.

"Saya hadir di sini menjalankan amanah dari Pak Gubernur [...] beliau (Bupati Sudewo) berhalangan karena sakit,” kata Gus Yasin.

Tapi, publik jelas nggak segampang itu percaya. Di tengah panasnya isu pemakzulan, sakitnya sang bupati ini memicu berbagai spekulasi liar.

Gubernur 'Semprot' Pemkab Pati

Nah, di saat Wagub turun langsung ke lapangan, Gubernur Ahmad Luthfi menggelar rapat darurat di Semarang. Dan hasilnya? Ia secara terbuka menyemprot Pemkab Pati.

Luthfi membongkar kronologi yang menunjukkan kalau Pemkab Pati ini "bandel" dan nggak nurut sama arahan dari provinsi sebelum menaikkan PBB. Ternyata, Pemprov Jateng sudah ngasih tiga syarat mutlak yang harus dipenuhi, salah satunya adalah memastikan kebijakan itu nggak membebani masyarakat.

Tapi, laporan pemenuhan syarat itu tak kunjung dikirim sampai akhirnya demo meledak.

"Sampai sekarang, mungkin dari kajiannya belum sampai dan lain sebagainya. Ini menjadi teguran untuk tidak dilakukan kembali, tetapi (kebijakan kenaikan PBB) sudah ditarik," ucap Gubernur Luthfi dengan tegas.

Tim Khusus Dikerahkan Biar Pati Gak Ambyar

Meskipun situasi diklaim sudah kondusif, Pemprov Jateng nggak mau ambil risiko. Gubernur Luthfi langsung mengerahkan sejumlah tim khusus ke Pati. Tujuannya?

  • Memastikan roda perekonomian dan investasi tetap jalan.
  • Menjaga layanan kesehatan tidak terganggu.
  • Berkomunikasi dengan tokoh masyarakat biar suasana makin adem.

Singkatnya, Pemprov seolah mengambil alih "kendali" untuk memastikan Pati nggak makin ambyar.

Jadi, Apa Selanjutnya?

Kini, nasib Bupati Sudewo ada di tangan DPRD Kabupaten Pati. Mereka sedang memproses wacana hak angket yang bisa berujung pada pemakzulan. Dan Pemprov Jateng? Mereka memilih untuk "lempar bola panas" ini ke DPRD.

"Kita tunggu dari DPRD-nya, jadi ini kan kewenangannya di DPRD Kabupaten Pati, bukan di Pemprov," jelas Luthfi.

Drama di Pati ini jadi cermin besar. Ini bukan lagi cuma soal PBB. Ini soal arogansi, kelalaian, dan bagaimana sebuah kebijakan yang buruk bisa memicu krisis kepemimpinan yang serius. Kita tunggu saja, apakah Bupati Sudewo akan kembali muncul, atau "sakit"-nya ini akan jadi awal dari akhir kariernya di Pati.