Rabu, 01 Juli 2026
Reza Sulaiman : Selasa, 22 Juli 2025 | 09:00 WIB

guideku.com - Di balik semua tawa dan tingkah kocak Jirayut yang selalu bikin kita ngakak di TV, ternyata tersimpan sebuah kecemasan besar yang terus menghantuinya setiap kali ia pulang kampung ke Thailand.

Ini bukan soal kangen masakan rumah atau ketemu keluarga. Ini adalah soal "undian maut" yang bisa mengubah nasibnya 180 derajat dalam sekejap.

Dalam sebuah obrolan di TV, Senin (21/7/2025), Jirayut akhirnya blak-blakan soal "hantu" bernama wajib militer (wamil) di negaranya, dan proses seleksinya yang lebih menegangkan dari final piala dunia.

Drama Undian Hitam-Merah: Pertaruhan Hidup dan Mati

Lupakan seleksi wamil yang pakai tes fisik atau psikotes. Di Thailand, nasib setiap pria berusia 21 tahun ke atas ditentukan oleh sebuah ritual undian yang super dramatis: mengambil bola dari dalam kotak.

"Jadi ada bola, undian bola gitu. Kalau dapatnya warna hitam tandanya nggak lolos, kalau dapat warna merah itu wajib ikut militer," ungkap Jirayut dengan raut wajah serius.

Bayangin deh, Gengs. Di satu ruangan, ratusan pemuda berbaris, dan nasib mereka ditentukan cuma dari warna bola yang mereka ambil. Nasib yang dipertaruhkan pun bukan main-main, apakah mereka bisa melanjutkan kuliah, mengejar karier, atau justru harus masuk barak selama 6 bulan sampai 2 tahun.

Nggak heran kalau suasana saat prosesi ini super mencekam. "Banyak yang sampai nangis," tambah Jirayut, menggambarkan betapa menakutkannya momen itu.

Ada yang nangis bahagia karena dapat bola hitam, ada juga yang nangis histeris karena dapat bola merah dan harus merelakan semua rencananya.

Nasib Jirayut Sekarang: 'Keberuntungan' yang Nggak Abadi

Terus, gimana dengan nasib Jirayut sendiri? Pria yang kini usianya sudah 24 tahun ini mengaku masih berada di "zona aman", tapi tipis banget. Keberuntungannya sejauh ini adalah karena setiap kali ia pulang, kuota pendaftaran wamil di daerahnya selalu keburu penuh.

"Sejauh ini aku usia 24, belum ikut, karena pas pulang kuotanya selalu full," katanya.

Tapi ia sadar betul, "keberuntungan" ini nggak akan bertahan selamanya. Ancaman ini akan terus membayanginya tanpa ada batasan usia maksimal. Makanya, ia harus pintar-pintar memanfaatkan waktu.

"Sementara belum dapat kuota, aku ngumpulin uang dulu," ujarnya. Sebuah kalimat yang menunjukkan dilema besarnya: ia harus tancap gas berkarier dan menabung sebanyak-banyaknya di Indonesia, sebelum "undian maut" itu memanggilnya pulang.

Pasrah, tapi Tetap Siapin Mental Baja

Jirayut mengaku pasrah dengan apa pun yang akan terjadi. Jika suatu saat nanti tangannya mengambil bola merah, ia sudah siap mental.

"Kalau aku harus siapkan mental kalau dapat giliran. Kalau enggak, ya aku bisa comeback ke Indonesia," jelasnya.

Kisah Jirayut ini jadi bukti bahwa di balik senyum cerianya di layar kaca, ada sebuah beban dan ketidakpastian besar yang ia pikul. Ini juga membuka mata kita tentang betapa berbedanya sistem di negara lain, di mana nasib seseorang bisa ditentukan oleh sebuah undian yang sangat acak.

Jadi, lain kali kamu lihat Jirayut lagi lucu-lucuan di TV, ingat ya, di balik itu ada seorang pejuang yang sedang berpacu dengan waktu dan takdir. Kita doakan saja semoga dia selalu dapat "bola hitam", ya!