Minggu, 16 Agustus 2026
Reza Sulaiman : Selasa, 05 Agustus 2025 | 18:00 WIB

guideku.com - Kalau kamu jalan-jalan di kawasan Kayutangan Heritage, Malang, coba deh perhatiin baik-baik. Di salah satu sudut jalan, kamu bakal nemuin sebuah mural wajah seorang kakek tua yang tatapannya sarat makna.

Dia adalah Mbah Arifin, seorang legenda urban yang kisah cintanya jauh lebih dramatis dan menyentuh dari film romantis mana pun.

Mural itu bukan sekadar hiasan. Itu adalah monumen pengingat dari sebuah kisah kesetiaan level dewa. Kisah tentang seorang pria yang rela menghabiskan sisa hidupnya duduk di pinggir jalan, hanya untuk menanti satu janji dari sang kekasih.

Penantian 50 Tahun yang Tak Berujung

Kisah yang paling populer dan dipercaya banyak orang ini benar-benar kayak cerita film. Konon, Mbah Arifin, yang juga akrab disapa Mbah Gombloh, sudah jadi "penghuni tetap" sudut jalan Kayutangan sejak tahun 1970-an!

Setiap hari, dari pagi sampai sore, ia akan duduk di lokasi yang sama, tepat di depan bekas Toko Surabaya. Apa yang ia lakukan? Cuma satu: menunggu kekasihnya.

Menurut cerita yang beredar, pada tahun 1965, kekasihnya berjanji akan kembali menemuinya di titik itu. Berpegang teguh pada janji itu, Mbah Arifin pun memulai penantiannya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun pun berganti dekade. Tapi Mbah Arifin tetap di sana.

Yang lebih bikin nyesek, rumahnya sendiri kabarnya berada di perbatasan antara Kota Malang dan Kota Batu. Kebayang nggak sih, setiap hari ia menempuh perjalanan jauh cuma buat duduk dan menunggu?

Nasib Sang Kekasih yang Jadi Misteri

Terus, ke mana perginya si kekasih? Inilah bagian paling tragisnya. Sang kekasih tak pernah kembali. Nasibnya pun jadi misteri yang punya banyak versi.

"Perempuan ini ada yang bilang dibunuh, ada yang bilang ditahan dan ada yang bilang pergi keluar negeri. Intinya tak lagi bertemu dengan Mbah Arifin," ungkap Agung Buana, seorang pemerhati sejarah Malang.

Mbah Arifin, yang mungkin tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada wanita yang ia cintai, terus melanjutkan penantiannya hingga akhir hayatnya pada 8 April 2017.

"Ini kisah romantika yang melekat di Kayutangan. Betapa seorang laki-laki mau menunggu pasangannya sampai akhir hayatnya dan tidak bertemu. Ini adalah kesetiaan sesungguhnya," tutur Agung.

'Plot Twist': Versi Lain yang 180 Derajat Berbeda

Tapi, seperti legenda urban pada umumnya, selalu ada versi cerita lain yang bikin semuanya jadi makin misterius. Ada juga cerita kedua yang 180 derajat berbeda dari citra romantis Mbah Arifin.

Versi ini menyebutkan bahwa Mbah Arifin sebenarnya adalah seorang pengusaha kaya raya dari Surabaya yang jatuh miskin karena hobi berjudi. Setelah hartanya ludes, ia pindah ke Malang dan menjadi seorang juru parkir di Kayutangan untuk menyambung hidup.

Tapi, versi ini pun punya kejanggalannya sendiri. "Meski kelihatan seperti orang tidak punya, ternyata setiap hari selalu ada mobil mewah yang mengirim makan ke dia. Itu disinyalir adalah anaknya," jelas Agung.

Bahkan, setiap sore, saat hendak "pulang", Mbah Arifin selalu dijemput oleh sebuah mobil misterius.

Kisah Mana yang Kamu Percaya?

Dua versi cerita yang sangat kontras ini terus hidup di benak masyarakat Malang. Mana yang benar, mungkin tak akan pernah ada yang tahu pasti.

Tapi satu hal yang jelas, kisah kesetiaanlah yang akhirnya menang dan diabadikan dalam bentuk mural. Karena pada akhirnya, cerita tentang cinta dan penantian tanpa batas itu jauh lebih indah untuk dikenang.

Jadi, lain kali kamu ke Kayutangan, jangan lupa sempatkan diri buat "menyapa" mural Mbah Arifin. Di balik wajah tuanya, tersimpan sebuah kisah cinta legendaris yang mengajarkan kita arti kesetiaan yang sesungguhnya.