Rabu, 01 Juli 2026
Reza Sulaiman : Rabu, 06 Agustus 2025 | 08:00 WIB

guideku.com - Buat kamu yang punya adik, keponakan, atau bahkan kamu sendiri yang masih suka main Roblox, ada sebuah "alarm bahaya" yang baru saja dinyalakan oleh pemerintah dan psikolog anak.

Game "kotak-kotak" yang kelihatannya lucu dan kreatif ini ternyata menyimpan sisi gelap yang serius.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, secara resmi melarang anak-anak sekolah dasar untuk bermain Roblox. Alasannya? Bukan cuma soal kekerasan, tapi juga ada potensi bahaya yang lebih mengerikan, seperti yang diungkapkan oleh Kak Seto.

Alasan Pertama: Adegan Kekerasan yang Dianggap 'Normal'

Dalam kunjungannya ke sebuah SD di Jakarta, Senin (4/8/2025), Mendikdasmen Abdul Mu’ti secara blak-blakan bilang kalau Roblox itu tidak baik untuk anak-anak. Kenapa? Karena game ini penuh dengan adegan kekerasan yang bisa ditiru.

"Kalau main HP tidak boleh nonton kekerasan. Di situ ada berantemnya, kata-kata yang jelek, jangan nonton yang tidak berguna. Nah yang main blok-blok (Roblox) tadi itu jangan main yang itu ya karena itu tidak baik ya," katanya.

Logikanya simpel tapi ngena banget. Anak-anak usia SD itu peniru ulung. Mereka belum bisa sepenuhnya membedakan mana yang fiksi dan mana yang nyata.

"Misalnya, mohon maaf ya, kalau di game itu dibanting, itu kan tidak apa-apa orang dibanting di game. Kalau dia main dengan temennya, kemudian temennya dibanting, kan jadi masalah," ujarnya.

Alasan Kedua (yang Paling Mengerikan): Potensi Jadi Sarang Konten Porno & Predator

Nah, kalau alasan dari Mendikdasmen sudah cukup bikin kita was-was, peringatan dari psikolog anak legendaris, Kak Seto, ini levelnya lebih horor lagi. Kak Seto mendukung penuh larangan dari pemerintah, tapi ia menyoroti bahaya lain yang lebih tersembunyi.

Menurutnya, Roblox berpotensi menjadi sarang konten pornografi anak dan tempat para predator online beraksi.

"Ya memang belum banyak ya (laporannya). Ada beberapa yang sudah mengarah ke pornografi, kemudian juga menirukan beberapa gerakan-gerakan seperti yang ada di Roblox," kata Kak Seto kepada Suara.com, Selasa (5/8/2025).

Meskipun isunya belum meledak secara masif, Kak Seto menegaskan kalau kita harus mencegah sebelum terlambat.

"Kita harus mencegah supaya jangan sampai terjadi, karena kemungkinan-kemungkinan itu banyak terjadi. Apalagi kalau kemudian adanya unsur predator memangsa anak melalui jalur ini," ujarnya.

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Para Orang Tua (dan Kakak)?

Baik Mendikdasmen maupun Kak Seto sepakat, kunci utamanya ada di pengawasan dan pendampingan orang dewasa. Ini bukan berarti kita harus melarang total anak-anak main gadget, tapi kita harus lebih pintar dari mereka.

Dampingi & Pandu: "Dampingi (anak saat bermain gawai), harus kita pandu supaya yang diakses adalah yang bermanfaat," pesan Mendikdasmen. Tunjukkan ke mereka game atau konten lain yang lebih edukatif.

Seleksi Gamenya: "Ya tentu pertama menseleksi, menyensor kualitas dari gamenya itu, bahwa yang positif saja yang dikonsumsi,” ungkap Kak Seto. Jangan cuma karena lagi tren, semua game langsung di-install.

Atur Waktu Main: Ini yang paling penting. Jangan biarkan anak-anak jadi kecanduan. Batasi waktu mereka di depan layar dan ajak mereka untuk lebih banyak beraktivitas di dunia nyata, seperti main bareng teman-temannya.

Pemerintah sendiri sudah punya program bernama Tunas yang tujuannya untuk melindungi anak-anak di dunia digital. Tapi pada akhirnya, benteng pertahanan pertama dan terakhir itu tetap ada di keluarga.

Jadi, Gengs, coba deh mulai sekarang lebih perhatiin lagi adik atau keponakanmu pas lagi main Roblox. Jangan sampai "dunia kotak-kotak" yang kelihatannya seru itu justru jadi pintu masuk ke hal-hal yang berbahaya.