Rabu, 01 Juli 2026
Reza Sulaiman : Senin, 11 Agustus 2025 | 10:30 WIB

guideku.com - Jagat media sosial lagi-lagi "kebakaran" gara-gara perdebatan soal agama dan budaya. Kali ini yang jadi "tersangka"-nya adalah ulama kondang, Gus Miftah.

Di tengah momen bahagianya merayakan ulang tahun, ia justru "diserang" oleh seorang konten kreator yang menuding perayaan ulang tahun itu haram dan mengikuti tradisi dari Kitab Injil.

Sontak, video kritik ini langsung viral dan memicu perdebatan sengit di kalangan netizen. Jadi, ada apa sebenarnya?

Bongkar 'Serangan' Sang Konten Kreator

Semua ini bermula saat Gus Miftah merayakan miladnya sekaligus hari jadi pesantren asuhannya, Ora Aji, di Yogyakarta. Acaranya pun diisi dengan tausyiah, doa bersama, dan tumpengan.

Tapi, di tengah semua itu, muncul seorang konten kreator bernama Ihza Mahendra yang melontarkan kritik super tajam. Menurutnya, tradisi merayakan ulang tahun itu tidak ada dalam ajaran Islam.

Ia bahkan melontarkan pertanyaan provokatif. "Nah, jadi, apakah orang-orang yang tadi merayakan hari lahir mereka itu berdasarkan dalil dari Kitab Injil? Wah, menarik, nih," imbuhnya.

Sambil mengutip hadis soal "larangan menyerupai suatu kaum", ia berpesan agar para orang tua tidak menyekolahkan anaknya ke lembaga yang mengajarkan perayaan ulang tahun.

Jadi, Gimana Sebenarnya Hukum Ulang Tahun dalam Islam?

Nah, "serangan" dari Ihza Mahendra ini sebenarnya menyentuh perdebatan lama yang di kalangan ulama sendiri masih ada perbedaan pendapat (khilafiyah).

Pendapat yang Melarang: Kelompok ini, seperti yang diwakili oleh Ihza, berpegang teguh pada hadis tentang larangan meniru-niru (tasyabbuh) tradisi kaum lain. Bagi mereka, karena tradisi ulang tahun dengan kue dan lilin itu berasal dari luar Islam, maka hukumnya haram.

Pendapat yang Membolehkan (dengan syarat): Kelompok ulama lain, termasuk banyak ulama di Indonesia, berpendapat bahwa merayakan ulang tahun itu boleh (mubah), selama niat dan caranya benar. Bagi mereka, selama perayaan itu diisi dengan rasa syukur kepada Allah, doa, dan sedekah (seperti tumpengan yang dilakukan Gus Miftah), dan tidak meniru ritual keagamaan lain, maka itu tidak menjadi masalah.

Pelajaran dari 'Perang' Opini

Drama ini jadi cermin besar dari betapa beragamnya cara orang memahami agama. Apa yang bagi satu kelompok dianggap sebagai tradisi budaya yang positif, bagi kelompok lain bisa dianggap sebagai penyimpangan.

Kasus Gus Miftah ini jadi contoh nyata. Acaranya yang berisi tausyiah dan doa bersama jelas punya niat yang baik. Tapi, karena "label"-nya adalah "ulang tahun", ia jadi sasaran empuk bagi mereka yang punya pandangan lebih kaku.

Ini jadi pengingat buat kita semua untuk selalu kritis dan nggak menelan mentah-mentah semua konten dakwah di media sosial. Selalu coba cari tahu pandangan dari berbagai sumber sebelum ikut-ikutan menghakimi.

Jadi, menurutmu, apakah merayakan ulang tahun dengan tumpengan dan doa itu salah? Atau ini semua cuma soal perbedaan cara pandang yang dibesar-besarkan?