Kamis, 02 Juli 2026
Reza Sulaiman | Anggia Khofifah P : Selasa, 19 Agustus 2025 | 13:54 WIB

guideku.com - Kalau ngomongin perayaan 17 Agustus di Istana Merdeka, biasanya yang jadi sorotan adalah kemeriahan acara sama outfit para tamu undangan. Tapi tahun ini, ada satu sosok yang tiba-tiba bikin publik ramai ngomongin: Gustika Jusuf Hatta, cucu dari proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama RI, Bung Hatta.

Kenapa viral? Karena Gustika tampil beda banget. Bukan sekadar gaya, tapi busana yang ia pilih punya makna dalam.

Pesan Simbolik di Balik Kebaya Hitam dan Batik Slobog

Di HUT RI ke-80, Gustika hadir dengan kebaya hitam sederhana yang dipadukan kain batik motif slobog. Buat sebagian orang mungkin terlihat biasa, tapi ternyata motif batik itu punya arti mendalam. Slobog biasanya dipakai di prosesi pemakaman sebagai simbol duka, pelepasan, dan doa agar jalan yang ditinggalkan bisa lapang.

Dalam unggahan Instagram-nya, Gustika bilang busana itu bukan sekadar gaya, tapi bentuk kritik diam-diam. Sebelumnya, kain dan kebaya yang sama juga pernah ia kenakan waktu ikut Aksi Kamisan, protes rutin tiap Kamis depan Istana Negara buat menuntut keadilan bagi korban pelanggaran HAM.

"Walau bukan Kamisan, pagi ini aku memilih kebaya hitam yang sengaja kupadukan dengan batik slobog," tulisnya.

Kritik Terbuka untuk Pemerintah

Nggak berhenti di simbol, Gustika juga speak up secara terbuka. Ia mengkritik pemerintahan baru Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

"Di hari kemerdekaan tahun ini, rasa syukurku bercampur dengan keprihatinan atas luka HAM yang belum tertutup. Bahkan kini kita dipimpin oleh seorang Presiden penculik dan penjahat HAM, dengan Wakil anak haram konstitusi," tulisnya tegas.

Ia bahkan berencana bakal terus pakai busana simbolik itu di setiap upacara 17 Agustus selama lima tahun ke depan, sebagai bentuk protes diam-diam.

Bukan Sekadar Cucu Bung Hatta

Banyak orang mungkin baru ngeh nama Gustika gara-gara viral ini, padahal dia udah lama aktif dan dikenal di berbagai forum nasional maupun internasional.

Nama lengkapnya Gustika Fardani Jusuf Hatta, lahir 19 Januari 1994. Ia anak dari pasangan Halida Nuriah Hatta (putri bungsu Bung Hatta dan Rahmi Hatta) dan Gary Rachman Jusuf. Jadi ya bisa dibilang Gustika tumbuh dengan warisan sejarah yang kuat.

Tapi menariknya, ia nggak cuma "numpang nama besar". Gustika benar-benar menekuni pendidikan dan kariernya sendiri.

Pendidikan dan Karier Internasional

Gustika kuliah di King's College London, ngambil jurusan War Studios (Studi Perang). Jurusan ini bahas tentang strategi militer, sejarah konflik, sampai hubungan internasional.

Selain itu, ia juga pernah belajar setahun di Institut d'Etudes Politiques de Lyon (Prancis), ikut kursus di University of Geneva, The Hague Academy of International Law, bahkan sempat program singkat di Oxford dan Sotheby's Institute of Art.

Bidang yang ia tekuni cukup luas: mulai dari perlindungan warisan budaya di daerah konflik, peran perempuan di militer, sampai isu strategis di Asia Tenggara.

Nggak cuma di kelas, Gustika juga aktif di forum dunia. Tahun 2012, ia jadi delegasi muda Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) di Doha, lalu tahun 2013 hadir di UNESCO Youth Forum. Ia juga pernah magang di misi Indonesia untuk PBB. Dari situ kelihatan banget kalau ia memang punya concern besar soal HAM, lingkungan, dan peran anak muda.

Aktivis Kritis dan Feminist

Selain pendidikan dan kiprah internasional, Gustika juga dikenal sebagai aktivis feminis. Ia sering angkat isu kesetaraan gender, hak perempuan, sampai kritik terhadap kebijakan pemerintah. Bahkan, ia pernah ikut menggugat Presiden Joko Widodo terkait pengangkatan penjabat kepala daerah.

Sisi Personal yang Santai

Di balik keseriusannya, Gustika juga sosok yang hangat dan apa adanya. Di Instagram @gustikajusuf, ia sering berbagi keseharian, termasuk kecintaannya pada kucing. Beberapa kucing kesayangannya punya nama unik, seperti Hobi dan Kimba.

Meski sekarang belum menikah, pada Juli 2025 ia sempat mengumumkan acara tunangan dengan kekasihnya, Gifar.

Harapan dari Seorang Cucu Proklamator

Keberanian Gustika buat menyuarakan kritik, baik lewat busana maupun kata-kata, nunjukin kalau ia nggak cuma jadi "cucu Bung Hatta" yang diam di balik nama besar keluarga. Ia memilih jalan sendiri: bersuara untuk keadilan, HAM, dan masa depan Indonesia.

Di tengah hiruk pikuk politik yang kadang bikin kita apatis, sosok kayak Gustika jadi pengingat bahwa masih ada anak muda yang berani speak up. Seperti batik slobog yang ia kenakan, mungkin memang penuh duka, tapi tetap jadi doa dan harapan untuk bangsa ini.