Rabu, 01 Juli 2026
Reza Sulaiman | Anggia Khofifah P : Jum'at, 22 Agustus 2025 | 12:40 WIB

guideku.com - Kalau ngomongin soal nama Sumanto, banyak orang langsung keingat kasus menghebohkan di awal 2000-an: kanibalisme. Yup, pria asal Purbalingga, Jawa Tengah ini pernah bikin geger satu Indonesia gara-gara mencuri dan memakan jenazah orang yang baru dimakamkan.

Tapi, belasan tahun setelah masa kelam itu, ternyata kehidupan Sumanto berubah drastis. Bahkan sekarang dia lagi viral lagi gara-gara film Labinak: Mereka Ada di Sini yang sedikit banyak terinspirasi dari kisah hidupnya.

Uniknya, Sumanto sekarang bukan lagi sosok menyeramkan kayak dulu. Malah sebaliknya, dia kini dikenal sebagai konten kreator kuliner.

Dari Kanibal Jadi Konten Kreator

Di bawah naungan sebuah yayasan tempat dia tinggal, Sumanto aktif bikin konten di media sosial, terutama soal makanan. Kontennya sering berupa mukbang alias makan besar sambil direkam. Nggak jarang juga dia masak sendiri, terus hasilnya dimakan sambil bercanda.

Kalimat-kalimatnya pun sering bikin warganet ngakak. Misalnya, dia pernah bilang:

"Dulu masak daging hidup-hidup, sekarang full matang."

"Dulu ngejar orang, sekarang dikejar endorse."

Sekarang, beberapa brand udah mulai melirik Sumanto buat kerja sama. Jadi bisa dibilang, dari yang dulu bikin orang takut, sekarang malah bikin orang penasaran tiap lihat konten barunya.

Belum Pernah Coba Rawon

Meski kontennya banyak soal kuliner, ternyata masih ada makanan khas Nusantara yang belum pernah dicoba Sumanto, yaitu rawon dari Probolinggo.

"Penasaran banget sama rawon, karena katanya kuahnya hitam dan rasanya khas," ungkapnya.

Komentar-komentar netizen pun sering penuh dengan saran makanan unik lain yang harus dicoba Sumanto. Banyak yang bilang, mereka suka lihat perubahannya yang sekarang lebih ceria dan aktif di dunia digital.

Mengingat Lagi Kasus Besarnya

Buat yang belum tahu atau mungkin udah lupa, kasus Sumanto ini pecah di tahun 2003. Waktu itu warga Desa Majatengah, Purbalingga, geger karena jenazah seorang nenek bernama Mbok Rinah hilang dari makam.

Polisi akhirnya menemukan tulang belulang korban di rumah Sumanto, yang saat itu berusia 32 tahun. Tanpa perlawanan, dia mengaku perbuatannya. Alasannya? Ia percaya dengan memakan daging manusia, bisa memperoleh kekuatan gaib, mulai dari kekebalan hingga ketenangan batin. Faktor ekonomi sulit dan kegagalan rumah tangga juga disebut ikut memicu tindakannya.

Ternyata, Mbok Rinah bukan satu-satunya korban. Sumanto juga mengaku pernah memakan jenazah lain saat bekerja di Lampung. Karena saat itu tidak ada pasal khusus tentang kanibalisme, Sumanto dijerat Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan.

Pada 27 Juni 2003, dia divonis lima tahun penjara. Tapi karena berkelakuan baik, ia bebas lebih cepat pada 2006.

Hidup Baru di Yayasan

Sayangnya, begitu bebas, masyarakat dan keluarga menolak kehadirannya kembali. Akhirnya, ia ditampung di Panti Rehabilitasi Mental An-Nur, Karanganyar, Purbalingga, di bawah asuhan KH Supono Mustajab.

Di sana, Sumanto mendapat bimbingan agama dan pelatihan supaya meninggalkan ilmu hitam. Kesehariannya diisi dengan bercocok tanam, bikin mebel, sampai akhirnya ikut tren baru: bikin konten media sosial. Dari situlah muncul wajah barunya sebagai konten kreator.

Viral Lagi Gara-Gara Film Labinak

Baru-baru ini, nama Sumanto kembali ramai dibicarakan setelah film horor Labinak: Mereka Ada di Sini rilis. Film ini mengangkat kisah fiksi yang terinspirasi dari kasus-kasus kanibalisme, termasuk sosok Sumanto.

Penulis naskah film, Pratiwi Juliani, bilang bahwa pihaknya sempat melakukan riset langsung dengan Sumanto. Meski komunikasinya terbatas karena domisili Sumanto jauh dari Jakarta, ternyata ngobrol dengan dia terasa gampang dan cair.

Sumanto bahkan diundang nonton bareng film itu di Purwokerto. Lucunya, dia malah takut nonton film horor tersebut, padahal jalan ceritanya sebagian terinspirasi dari dirinya sendiri.

Transformasi Sumanto dari kanibal jadi konten kreator jelas bikin banyak orang tercengang. Dari kisah kelam di masa lalu, sekarang dia lebih dikenal sebagai pribadi yang ramah, humoris, dan bisa beradaptasi dengan dunia digital.

Kalau dulu orang mendengar namanya langsung bergidik, kini banyak yang menanti konten terbarunya di media sosial. Perubahan ini mungkin jadi bukti nyata bahwa setiap orang, seburuk apa pun masa lalunya, masih punya kesempatan buat berubah dan memulai hidup baru.