Sabtu, 27 April 2024
Caca Kartiwa : Sabtu, 25 November 2023 | 12:30 WIB

Aktifkan Notifikasimu

Jadilah yang pertama menerima update berita penting dan informasi menarik lainnya.

Guideku.com - Kejuaraan Piala Dunia Spogomi 2023 digelar pada hari Rabu waktu setempat di Shibuya Ward, Tokyo, Jepang untuk menentukan siapa yang terbaik dalam mengumpulkan sampah di seluruh dunia.

Kompetisi yang sangat sengit ini melibatkan 63 peserta dari 21 negara termasuk Indonesia.

Kompetisi ini terdiri dari tim yang beranggotakan tiga orang, berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin sampah dalam batas waktu 90 menit untu mendapatkan poin berdasarkan jenis dan berat barang yang dikumpulkan.

Dimulai dari Stasiun Shibuya, tim-tim berjalan-jalan selama waktu yang ditentukan dan berhasil mengumpulkan total sekitar 550 kilogram sampah, termasuk botol, kaleng, dan payung.

Tim Inggris, "The North Will Rise Again" berhasil menjadi pemenang dengan mengumpulkan 9.046,1 poin untuk 57,27 kilogram (126,26 pon) sampah

Jepang, sebagai tuan rumah, menempati posisi kedua, dan Italia menduduki peringkat tiga.

"Sebagian besar tim mungkin lebih ekologis, dan kurang olahraga, dan kami mungkin kebalikannya, tetapi kami telah memperoleh banyak pengalaman tentang seberapa besar kita perlu membersihkan laut kita dan mengurangi sampah," kata kapten tim, Sarah Parry, dikutip dari Reuters, Sabtu (27/11/2023)

Standar kebersihan dan kebersihan Jepang yang terkenal membuat mencari sampah menjadi tantangan bagi beberapa peserta.

Nama SpoGomi berasal dari penggabungan singkatan "sport" dan "gomi" yang berarti sampah dalam bahasa Jepang.

Ditemukan pada tahun 2008 untuk mendorong orang agar mengambil sampah di tempat umum, kompetisi ini telah menjadi sangat populer hingga sejauh ini telah diadakan sekitar 230 kontes di Jepang tahun ini.

Nippon Foundation sebagai pihak penyelenggara mengungkapkan bahwa Piala Dunia ini diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan masalah lingkungan, terutama terkait polusi plastik di lautan.

Menurut Direktur Eksekutif Mitsuyuki Unno, fokus utamanya adalah memberi pemahaman kepada mereka yang belum menyadari dampak sampah laut.

Event ini juga diorientasikan untuk memberi kesempatan kepada individu yang sudah sadar akan masalah tersebut dan memiliki keinginan untuk mengambil langkah nyata.

Selain itu, mereka berencana untuk menyelenggarakan Piala Dunia kedua pada tahun 2025.

 

BACA SELANJUTNYA

Keunikan Onsen, Jenis-Jenis Pemandian yang Harus Diketahui Saat Wisata ke Jepang