Sabtu, 27 April 2024
Dany Garjito : Selasa, 19 Februari 2019 | 18:45 WIB

Aktifkan Notifikasimu

Jadilah yang pertama menerima update berita penting dan informasi menarik lainnya.

Guideku.com - Kampung nelayan Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Kota Semarang, Jawa Tengah sempat disebut oleh Joko Widodo atau Jokowi, selaku Capres Nomor Urut 01 dalam debat capres yang digelar di Holten Sultan, Jakarta pada Minggu (17/2/2109).

Jokowi mengungkapkan bahwa dia sempat berkunjung tengah malam hanya berdua sopir tanpa pengawalan, demi mendengar aspirasi serta keinginan warga pesisir dan nelayan setempat.

Pernyataan Jokowi itu menjawab paparan dari capres Prabowo Subianto yang menyoal banyaknya nelayan yang tak diperhatikan oleh pemerintah. Mulai dari akses permodalan, lingkungan, hingga fasilitas dalam jual beli produk perikanan nelayan.

Lalu, seperti apa wajah kampung nelayan Tambaklorok itu yang sempat disebut oleh Jokowi.

Dilansir dari Suara.com, Kampung Tambaklorok berada di Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, warganya mayoritas sebagai nelayan kecil. Daerah ini juga dikenal dengan langganan banjir rob. Sehingga perkampungan ini selalu dalam keadaan becek dengan jalan berlumpur dan rusak.

Walau begitu, pasar ikan di Tambaklorok selalu ramai, ada Tempat Pelelangan Ikan atau TPI serta pasar ikan tradisional yang menjual hasil tangkapan nelayan. Ada pelabuhan sandar, tapi hanya bisa digunakan oleh kapal kecil karena perairan dangkal.

Beberapa presiden berganti, kampung nelayan Tambaklorok seperti tak pernah tersentuh secara infrastruktur. Padahal, Tambaklorok selalu dijadikan tempat strategis dalam kampanye baik calon presiden, parpol, dan calon legislatif.

Sampai di era Jokowi, kampung nelayan Tambaklorok mulai berkembang sejajar dengan daerah lain di Semarang. Saat ini telah digagas sebuah kampung bahari dengan merevitalisasi Kampung Tambaklorok dari segi infrastruktur.

Jalan yang membelah kampung kini dibeton dengan lebar lima meter terdiri dari dua ruas, dibuat pula taman pada median jalan dengan aksesoris modern. Bahkan pasar ikan yang becek kini sudah diganti dengan gedung permanen. Proyek itu kini tengah dikerjakan.

Kampung Tambaklorok akan menjelma menjadi kampung bahari yang ditujukan sebagai pusat perdagangan ikan para nelayan yang berlayar di Laut Jawa. Kapal-kapal besar akan bisa singgah untuk menjual ikan di TPI Tambaklorok. Selanjutnya akan didistribusikan ke seluruh Jawa Tengah dan daerah luar.

"Dari akses masuk dibuat patung ikan, sebagai penanda ini kampung nelayan. Jalan semua ditinggikan dan dicor," kata Mudakir selaku pengawas proyek, Senin (18/2/2019), seperti dikutip dari Suara.com.

Menurut Mudakir, proyek yang dia kerjakan meliputi sarana MCK, taman sepanjang jalan dan pesisir laut. Serta membuat gardu pandang.

"Ini taman sepanjang pesisir, ada tempat duduk, berteduh, tempat sampah, bisa untuk santai menikmati suasana laut Tambaklorok," ungkapnya.

Jalan itu, kata dia, dulu tak layak. Sekarang dibuat dengan berpaving dengan berhias lampu taman.

"Gardu pandang setinggi Tinggi 10 meter x 20 cm. Ada ruangan 2 x 30 meter, mampu dinaiki 15-20 orang. Gardu pandang juga sebagai gapura memasuki area publik kampung bahari ini," katanya.

Kunjungan Tengah Malam

Kampung nelayan Tambaklorok, Semarang. (Suara.com/Adam Iyasa)

Sholiha (56), salah satu warga Tambaklorok mengatakan, dia membenarkan jika Jokowi benar mendatangi kampungnya. Jokowi datang dengan tiba-tiba hanya satu mobil. Tidak ada pengawalan khusus yang mencolok.

"Datang sekitar pukul 10 malam, karena jam nelayan melaut. Ya Pak Jokowi hanya ketemu warga dan nelayan yang tak melaut," ucap Sholiha.

Sholiha juga mengaku, hanya Jokowi satu-satunya presiden Republik Indonesia yang mendatangi Tambaklorok. Presiden sebelum-sebelumnya tak pernah mendatangi atau memberikan program pembangunan.

"Saya dari lahir di Tambaklorok, hanya Pak Jokowi presiden yang datang ke sini, lainnya tak pernah," katanya.

Bahkan dia berterimakasih atas pembangunan infrastruktur di Tambaklorok. Kampungnya tak lagi becek. Jalannya halus dan ditata rapi.

"Meskipun rumah saya kena gusur untuk pembangunan pasar tapi saya dapat ganti untung. Warga lain juga yang kena pelebaran dapat ganti untung," imbuhnya.

Dia mengaku, ada sekitar 30 rumah warga yang kena gusur. Sholiha tetap memilih tinggal di Tambaklorok dengan membeli tanah disekitarnya. Warga lainnya ada yang pindah.

"Alhamdulilah dapat ganti untung, malah bisa buat rumah baru, rumah lama itu reyot, bisa dikatakan tiang rumah kalau kesenggol kucing pun roboh," ucapnya bersyukur.

Dari uang ganti untung itu, dia bersama warga lainnya juga bisa menabung atau dibelikan barang kebutuhan rumah tangga lainnya.

"Ada sisa 10 jutaan, buat modal jualan karena suami saya sudah 7 tahun tak melaut. Lainnya ada yang beli motor atau sekolahkan anak," katanya yang setiap hari berjualan di TPI Tambaklorok.

Sementara itu, Ketua RT 10/ RW 14 Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Amani Edi Santoso mengaku sangat senang nama desanya disebut Jokowi dalam debat capres semalam. Dia juga berharap proyek kampung bahari segera rampung.

"Tinggal dikontrol saja dalam pembangunannya, karena kampung desa sudah jadi bagus. Tapi kadang di pinggir kanal dermaga dekat ruang terbuka hijau, masih buat jemur ikan-ikan, dan kerap tidak dibersihkan hanya ditinggal begitu saja jadi kumuh," katanya, Senin (18/2/2019).

Adanya kampung bahari baginya dan warga sangat bermanfaat. Selain itu juga mengurangi kekumuhan di area tersebut.

"Dulu sebelum ada proyek Kampung Bahari kalau air pasang rob di sini kumuh sekali, sekarang sudah tidak lagi. Tapi memang ada beberapa lahan yang belum selesai karena tidak sepakat dengan harga ganti untung," pungkasnya.

SUARA.com/Bangun Santoso

BACA SELANJUTNYA

Menikmati Pesona Alam dari Goa Rong View: Destinasi Liburan Hemat Akhir Tahun Dekat Kota Salatiga